ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terus memutar strategi di tengah tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketidakpastian geopolitik tersebut diakui telah meningkatkan risiko investasi sekaligus biaya modal secara global.
Meski demikian, Danantara melihat situasi ini bukan semata ancaman, melainkan juga membuka ruang peluang baru. Evaluasi terhadap portofolio investasi pun terus dilakukan guna memastikan imbal hasil tetap optimal di tengah gejolak.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan pihaknya baru saja melakukan stress test terhadap portofolio investasi yang dimiliki.
“Tadi pagi kita baru stress-testing kita punya portfolio. Karena memang melihat ketidakpastian di di Timur Tengah memang bukan hanya soal Indonesia saja, tapi semua negara tetangga mengalami hal yang sama,” kata Pandu dalam acara Outlook Indonesia di Jakarta, Selasa (7/4).
Ia menegaskan, lonjakan risiko global akibat konflik turut berdampak pada meningkatnya cost of capital. Namun, dalam setiap krisis selalu terdapat sektor-sektor yang justru menguat dan layak menjadi target investasi baru.
Saat ini, Danantara tengah mendalami empat sektor utama, yakni ketahanan energi, hilirisasi industri, layanan kesehatan, serta infrastruktur digital.
“Saya akan sebut saja sektor-sektor yang orang kita sedang pelajari. Satu di energy security, kedua di sisi downstream hilirisasi yang memang sedang kita lihat sekarang, ketiga juga kita lihat di sisi healthcare, dan keempat di sisi digital infrastructure,” lanjut Pandu.
Keterkaitan antar sektor tersebut dinilai semakin kuat, terutama antara energi dan infrastruktur digital. Pandu menyoroti bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan sangat bergantung pada ketersediaan energi dalam jumlah besar.
“When you talk about artificial intelligence and all the opportunities that will come, ada satu yang sebenarnya menjadi backlog mereka, which is energy. Energy is AI. AI itu membutuhkan energi,” ujarnya.
“Sumber energi yang murah dan juga access to clean water. Salah satu negara yang paling kaya di sini. So how can we utilize penggunaan energi atau kemampuan energi kita untuk bisa mendapatkan sumber dari sisi AI, which is digital infrastructure. Itulah opportunity yang menurut saya sangat menarik.”
Di tengah situasi global yang tidak menentu, Danantara juga tetap agresif memperluas kerja sama investasi. Dalam sepekan terakhir, lembaga ini mencatat dua kesepakatan strategis.
Pertama, kerja sama dengan SMBC Aviation Capital untuk membentuk platform aviation leasing bernama Mandiri Aviation Leasing Fund. Kedua, kolaborasi dengan Qatar Investment Authority dalam pengembangan sektor pariwisata di Labuan Bajo.
“Satu dengan SMBC, merupakan perusahaan terbesar untuk aircraft leasing di dunia. Ini jadi pertama untuk kita lakukan, untuk kita bisa tambah pintar mengenai aviation, dan kedua juga ini kita melakukan deal dengan Qatar Investment Authority. Ini pertama kali Qatar perang, tetap siap berinvestasi di Indonesia masuk ke Labuan Bajo,” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan global, Indonesia masih dipandang sebagai destinasi investasi yang menjanjikan, khususnya pada sektor-sektor strategis yang menopang pertumbuhan jangka panjang. []























