ASPEK.ID, JAKARTA – Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero) merespon vaksin Pfizer hasil produksi perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Pfizer, dengan perusahaan Jerman, BioNTech. Manajemen menyampaikan alasan belum memasukan Pfizer sebagai vaksin di Indonesia.
“Pfizer itu memang baru rilis hasil uji klinis (tahap III), efektivitasnya di atas 96 persen, tapi kondisi storage-nya itu minus 70 derajat celcius. Indonesia belum memiliki kemampuan seperti itu, dan bahaya sekali kalau vaksin ini tidak disimpan di suhu yang sebenarnya akan rusak sehingga nantinya pada saat diberikan kepada masyarakat ini akan berbahaya,” jelas Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir, Sabtu (21/11/2020).
Honesti mengakui, Pfizer memiliki kualitas dan efektivitas di atas 96 persen dengan penyimpanan (storage) vaksin dinilai minus 70 derajat celcius. Sementara, Indonesia dinilai belum mampu menangani vaksin dengan temperatur 70 atau lebih derajat celcius.
Akibatnya, jika tidak ditangani secara baik, maka vaksin justru mengalami kerusakan dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
Berbeda dengan dua vaksin yang masuk dalam list Indonesia yakni, Sinovac dan Covax. Kedua vaksin itu memiliki temperatur 2-8 derajat celcius.
Dengan begitu, kemampuan penyesuaian vaksin asal China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut sanggup ditangani Indonesia.
Jika Pfizer dan Moderna dimasukan dalam daftar kandidat vaksin di RI maka pemerintah juga akan membuat serangkaian pengadaan untuk tempat penyimpanan yang kemampuannya minus 20-70 derajat Celcius.
“Makanya ditetapkan oleh Perpres bahwa untuk jenis vaksin itu ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Tentunya sudah ada kriteria tertentu yang membuat nanti Indonesia bisa deliver vaksin itu lebih cepat, mulai dari pengembangannya ataupun pengadaannya, sampai nanti distribusi dan program vaksinasinya ke masyarakat,” pungkasnya.























