ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir sedang mencari jalan keluar terkait nasib perusahaan pelat merah yang kondisinya saat ini sedang ‘sekarat’.
Pendiri Mahaka Group itu mempunyai sejumlah opsi, mulai dari penyehatan kondisi keuangan hingga likuidasi. Perusahaan ini kemungkinan juga akan ditutup atau digabungkan (merger).
Namun, Kementerian BUMN hingga saat ini masih meninjau kembali agar nantinya diketahui ada berapa BUMN yang berstatus ‘sekarat’.
“Kita sedang mengelompokkan, BUMN mana yang secara bisnis dan keuangan yang terus menurun,” kata Erick Thohir dalam Rapat Kerja bersaam Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis (20/2).
Erick Thohir juga mengaku bahwa saat ini Kementerian BUMN sedang menunggu keputusan dari Presdien Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, terkait merger dan likuidasi BUMN-BUMN yang sekarat itu.
Salah satu BUMN sekarat dikatakan Erick Thohir adalah PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN). Uniknya, perusahaan pelat merah ini hanya memiliki 7 orang karyawan.
Dalam kesempatan itu Erick juga mengatakan bahwa PT PANN (Persero) menjalankan bisnis di luar bisnis intinya sebagai perusahaan pembiayaan, yakni masuk ke bisnis perhotelan.
Beberapa waktu sebelumnya, PT PANN (Persero) juga sempat membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Erick Thohir bingung karena kurang familiar.
PT
PANN diketahui mendapatkan PMN non-tunai sebesar Rp 3,76 triliun dari konversi
utang Subsidiary Loan Agreement (SLA) menjadi ekuitas.
Dilihat dari situs resminya, PT PANN merupakan BUMN yang
berdiri pada tahun 1974. Perusahaan ini bergerak di bidang Pengembangan Armada
Niaga Nasional yang bertugas di bidang pembiayaan dan pengembangan armada niaga
nasional.
PT PANN (Persero) memiliki anak usaha di bidang properti dan perhotelan. Dari sisi pembiayaan investasi modal kerja dan multiguna, dua anak usaha perseroan tersebut juga telah mendapat persetujuan Otoritas Jasa Keuangan.
























