ASPEK.ID, GAZA – Harga hewan kurban di Jalur Gaza mengalami lonjakan tajam menjelang Idul Adha. Dampak perang yang berkepanjangan membuat pasokan ternak menipis, sementara harga seekor hewan kurban kini mencapai US$ 6.000-7.000 atau sekitar Rp 106 juta hingga Rp 124 juta.
Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengatakan harga tersebut meningkat berkali-kali lipat dibandingkan sebelum perang. Saat itu, seekor hewan kurban umumnya dijual sekitar US$ 500.
Tak hanya harga yang melonjak, ketersediaan ternak juga semakin terbatas. Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, menjelaskan bahwa sebelum perang wilayah Gaza Timur rutin mendatangkan ribuan ternak setiap tahun menjelang Idul Adha.
Menurutnya, kawasan tersebut biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan 30.000 hingga 40.000 ekor domba. Namun kondisi berubah drastis setelah konflik berlangsung.
“Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total,” kata Asaliya kepada Xinhua, dikutip Antara, Jumat (29/5).
Ia menyebut kerusakan peternakan, kandang, hingga gudang pakan membuat masyarakat Gaza kehilangan salah satu tradisi penting saat Idul Adha.
“Selama hampir tiga tahun ini, masyarakat Gaza sudah tidak lagi merasakan meriahnya perayaan Hari Raya Idul Adha.”
“Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza,” sambungnya.
Pedagang ternak Salah Afana juga mengakui harga hewan kurban terus naik sejak perang pecah. Di sisi lain, daya beli masyarakat anjlok sehingga permintaan hampir tidak ada.
“Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat tradisi Idul Adha yang selama ini identik dengan penyembelihan hewan kurban dan berbagi daging semakin sulit dilakukan warga.
Ahmed Nashwan, warga Gaza, mengatakan untuk tahun ketiga berturut-turut dirinya tidak lagi menjalani tradisi memilih hewan kurban bersama keluarga.
“Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin,” ujarnya.
Senada, Mohammed al-Hissi (40), warga Gaza City yang memiliki empat anak, menyebut hewan kurban kini hampir mustahil diperoleh karena kelangkaan dan tingginya harga.
“Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging,” katanya.
“Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka,” lanjutnya. []
























