• Latest
  • Trending
Jokowi: Anggaran Stunting Habis di Meja Rapat

Jokowi: Anggaran Stunting Habis di Meja Rapat

1.191 Situs Pialang Berjangka Ilegal Diblokir

RI 1: Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI

Alasan Prabowo Pertahankan Kabinet Gemuk

Alasan Prabowo Pertahankan Kabinet Gemuk

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Ikuti Garis Politik Jokowi

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Desember, Komisioner dan Dewan Pengawas KPK Dilantik

KPK Bocorksn Isi Surat ke Panglima TNI Keterlibatan Prajurit Aktif di Kasus BNPB

Cadangan Devisa September 2019 Setara 7,2 Bulan Impor

Sah! BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75 Persen untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Prajogo Pangestu Habiskan Rp 3,6 Triliun, Akuisisi Diler Mobil di Singapura-Malaysia

Imbas Peringatan MSCI Kekayaan 3 Miliarder Indonesia Berkurang Rp 106 Triliun

BNPB Hormati OTT KPK, Dorong Asas Praduga Tak Bersalah

Istri Adik Eks Kepala BNPB Menangi Sejumlah Proyek

Prabowo Panggil Sejumlah Menteri Bahas Karhutla

Anas: 2 Agenda Mendesak Prabowo-Gibran di Tahun Ketiga

Bursa Asia Menguat, IHSG Ikut Meroket di Awal Perdagangan

Cegah Bursa RI Turun ke Standalone Market, DEN Beri Saran ke Prabowo

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

Sempat Menguat, IHSG Hari Ini Melemah

Prabowo Usul Bentuk Pengadilan Ad Hoc Usut BUMN Bermasalah di Masa Lalu

Prabowo Gelar Sidang Kabinet Paripurna di Istana Sore Ini

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Kamis, Oktober 22, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Jokowi: Anggaran Stunting Habis di Meja Rapat

by Aspek
Juni 15, 2023
in BERITA TERBARU, BERITA UTAMA, LIFESTYLE, NEWS
Jokowi: Anggaran Stunting Habis di Meja Rapat

Jokowi kesal karena anggaran program prioritas tidak digunakan secara optimal karena lebih banyak dihabiskan di meja rapat dan untuk perjalanan dinas. Permasalahan itu ditemukan Jokowi saat mengecek pemanfaatan anggaran di suatu daerah untuk program penurunan angka stunting atau tengkes. Jokowi mengungkapkan, dari total dana Rp 10 miliar yang dianggarkan untuk program stunting, hanya Rp 2 miliar yang dimanfaatkan secara konkret.

Sedangkan Rp 8 miliar lainnya digunakan untuk kepentingan perjalanan dinas, rapat, serta program penguatan dan pengembangan lainnya. Hal ini disampaikan Jokowi dalam sambutannya di acara peresmian pembukaan rakornas pengawasan intern pemerintah tahun 2023, di Jakarta, Rabu (14/6/2023).

BacaJuga

RI 1: Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI

Alasan Prabowo Pertahankan Kabinet Gemuk

Prabowo: Ikuti Garis Politik Jokowi

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

KPK Bocorksn Isi Surat ke Panglima TNI Keterlibatan Prajurit Aktif di Kasus BNPB

Sah! BI Tahan Suku Bunga di Level 5,75 Persen untuk Jaga Stabilitas Rupiah

“Baru saja minggu yang lalu saya cek di APBD Mendagri, coba saya mau lihat Rp 10 M untuk stunting. Cek perjalanan dinas Rp 3 M, rapat-rapat Rp 3 M, penguatan pengembangan blablabla Rp 2 M, yang untuk benar-benar beli telur itu gak ada Rp 2 M. Kapan stunting-nya akan selesai kalau caranya seperti ini,” kata Jokowi dikutip dari republika.

Karena itu, Jokowi menegaskan agar cara penganggaran seperti itu harus diubah. Seharusnya, menurut dia, Rp 8 miliar dari Rp 10 miliar yang dianggarkan digunakan langsung untuk pengadaan makanan sehat bagi masyarakat.

Selain soal anggaran stunting, Jokowi kembali mencontohkan anggaran daerah untuk pengembangan UMKM. Dari total anggaran Rp 2,5 miliar, sebanyak Rp 1,9 miliar di antaranya digunakan untuk honor dan perjalaan dinas. Sedangkan sisanya, yakni Rp 600 juta juga masih digunakan untuk program pemberdayaan, pengembangan, dan lainnya.

“Itu nanti sisanya yang Rp 0,6 M yang Rp 600 juta itu nanti juga masih muter-muter saja. Pemberdayaan, pengembangan, istilah-istilah yang absurd, gak konkret. Langsung ajalah. Itu untuk modal kerja, untuk beli mesin produksi, untuk marketing, ya kalau pengembangan UMKM mestinya itu, untuk pameran, jelas,” kata Jokowi menegaskan.

Jokowi juga menyinggung soal anggaran pembangunan balai di suatu daerah yang sebesar Rp 1 miliar. Seharusnya dari total anggaran itu, sebanyak Rp 900 juta digunakan untuk pembangunan balai.

Namun, setelah ia cek secara detail, sebanyak 80 persen dari total anggaran pembangunan digunakan untuk honor, rapat, dan perjalanan dinas. “Ini sudah tidak bisa lagi bapak ibu sekalian,” kata dia.

Begitu juga, dengan anggaran pengentasan kemiskinan di daerah. Jokowi menyebut hanya 1 persen dari total dana yang dianggarkan pemerintah daerah, yang digunakan secara konkret untuk program pengentasan kemiskinan.

Karena itu, Jokowi meminta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan pengawasan, pengawalan, dan pengarahan, baik kepada pemerintah pusat maupun daerah dalam menggunakan anggarannya. Sehingga, penggunaan anggaran bisa lebih produktif dan memberikan hasil yang optimal.

“Dan inilah tugas berat BPKP ada di sini. Begitu bisa membalikkan 80 (persen)-nya yang untuk konkret, 20 (persen)-nya yang untuk honor, perjalanan dinas, rapat, itu baru. Anggaran APBN, anggaran APBD itu produktif. Karena tangan BPKP itu sampai di provinsi, kabupaten, dan kota,” ujar Jokowi.

Jokowi menegaskan, orientasi penggunaan anggaran harus diubah, yakni dari orientasi prosedur menjadi orientasi hasil. Sehingga hasil dari penggunaan anggaran suatu program pun lebih konkret dan optimal.

Presiden menegaskan, peran pengawasan terhadap berbagai pelaksanaan program pemerintah sangat penting. Hal itu menjadi salah satu alasannya sering meninjau dan mengecek ke lapangan. Sehingga bisa dipastikan, program yang disusun benar-benar bermanfaat untuk rakyat.

photo

Jokowi menilai, selama ini pemerintah lemah dalam hal pengawasan. Karena itu, perlu pengecekan pelaksanaan setiap program hingga tingkat bawah.

“Karena memang kita lemah di sisi itu. Jika tidak diawasi, hati-hati, jika tidak cek langsung, jika tidak dilihat dipelototi satu-satu, hati-hati kita lemah di situ. Dipelototi kita turun ke bawah, itu saja masih ada yang bablas. Apalagi tidak,” ujarnya.

Jokowi pun meminta agar dilakukan penguatan pengawasan pelaksanaan program. Ia juga mengingatkan agar tak perlu ada data yang ditutup-tutupi. Jika memang ditemukan kesalahan, perlu dilakukan perbaikan. Di sisi lain, Jokowi juga meminta seluruh daerah agar tak mengabaikan rekomendasi-rekomendasi yang diberikan BPKP.

Kepala BPKP, Muhammad Yusuf Ateh, dalam sambutannya di acara rakornas pengawasan intern menyampaikan sejumlah hasil pengawasan terhadap program prioritas pemerintah. Ia mengungkapkan, penyelesaian kasus stunting di 378 daerah di Indonesia tidak sesuai target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Di sektor pendidikan, menurut dia, kualitas ruang kelas sekolah masih perlu ditingkatkan pada 241 daerah provinsi/kabupaten/kota. Pada sektor infrastruktur, ia mengungkapkan terdapat 58 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang pembangunannya belum dimulai, dan kondisi tersebut diikuti dengan risiko keterlambatan penyelesaian proyek, serta tidak optimalnya manfaat pembangunan proyek yang dihasilkan.

Kemudian, ia mengungkapkan perencanaan dan penganggaran untuk daerah belum optimal, yang mana BPKP menemukan bahwa sebanyak 43 persen program berpotensi tidak optimal, mengacu sasaran pembangunan pada daerah yang diuji petik.

Selain itu, pihaknya menemukan ada potensi pemborosan alokasi belanja daerah sebesar 21 persen dari nilai anggaran yang diuji petik. Dalam kesempatan itu, pihaknya mengungkapkan pelaksanaan pengawasan intern dalam upaya pengawalan dan pendampingan, belum sepenuhnya diterima dengan baik oleh pimpinan kementerian/lembaga/pemerintah daerah (K/L/D).

“Di lapangan, masih kerap terjadi penolakan atau penghalangan terhadap upaya pengawalan, yang kami rancang untuk dilakukan sejak tahap awal program/kegiatan,” ujar Ateh.

Komentar
Share27Tweet17SendShareShare5Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Ikuti Garis Politik Jokowi

  ASPEK.ID, JAKARTA-Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif di tengah dunia yang penuh...

Dari Bendungan hingga Labuan Bajo, Jejak Jokowi yang Sulit Dipisahkan dari NTT

Statemen Terbaru Jokowi Tentang Operasi Politik

ASPEK.ID, SOLO - Presiden ke-7 RI Joko Widodo menduga polemik ijazah yang kini menyeret anaknya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka...

Jokowi Mau RAPBN 2025 Akomodasi Semua Program Prabowo

Prabowo HUT, Jokowi Doakan Sehat

  ASPEK.ID SOLO -Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto yang berulang tahun...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In