ASPEK.ID, JAKARTA – Komisi VI DPR RI mendukung akselerasi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk menjadi perusahaan induk atau holding BUMN yang bergerak dalam bidang energi panas bumi.
Panas bumi merupakan salah satu sumber energi paling bersih. Energi Geothermal yang tidak menyebabkan pencemaran karena limbah yang dihasilkan hanya berupa uap air.
Holding BUMN Panas Bumi nantinya akan menggabungkan aset-aset yang dimiliki oleh PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), dan PT Geo Dipa Energi .
Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza mengatakan kunci keberhasilan pengembangan panas bumi adalah kemampuan eksplorasi di hulu karena panas bumi memiliki karakter yang sama dengan minyak dan gas alam.
“Kapabilitas dan karakteristiknya sama seperti yang dilakukan Pertamina sebagai perusahaan induk PGE. Makanya, PGE sangat layak menjadi induk holding BUMN Geothermal, kami sangat mendukung,” kata Faisol Riza dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (28/7).
Dalam analisa Faisol, PGE memiliki catatan kinerja positif dan berpengalaman dalam mengelola panas bumi selama hampir 50 tahun.
Menurut dia, PGE mampu memimpin konsolidasi aset dari BUMN lain yang juga menggarap energi terbarukan, yaitu PT PLN Gas and Geothermal dan PT Indonesia Power.
“PGE sudah berpengalaman hampir 50 tahun dalam pengelolaan panas bumi. Apalagi, saat ini total kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE adalah 1.877 megawatt atau sekitar 88 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia,” ujarnya.
PGE juga telah menjadi pionir pengelolaan panas bumi di Indonesia. Sejak 1974, perseroan pelat merah itu telah melakukan pengusahaan panas bumi mulai dari hulu hingga hilir.
Berbagai kegiatan hulu yang dilakukan PGE antara lain survei geologi, survei geofisika, survei geokimia, serta pengeboran sumur eksplorasi dan pengembangan.
Sedangkan kegiatan hilir mencakup ekploitasi dan pemanfaatan, termasuk pembangunan lapangan uap, pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi, serta pembangunan jaringan transmisi.
DPR mengharapkan potensi dan pengalaman panjang itu dapat menjadi bekal PGE dalam memimpin konsolidasi aset BUMN panas bumi secara baik, sehingga bisa meningkatkan kapasitas terpasang listrik panas bumi dari 1,2 gigawatt menjadi 2,5 gigawatt dalam lima tahun ke depan.
“Tujuan proses ini untuk mengembangkan panas bumi di Indonesia. Kami yakin sebagai konsolidator, PGE bisa mengemban misi tersebut,” kata politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa.
























