ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mengarahkan transformasi Telkom Enterprise, unit bisnis PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang bergerak di bidang solusi digital, teknologi informasi, dan konektivitas terintegrasi. Dalam transformasi tersebut, Telkom Enterprise diposisikan sebagai integrator yang menyatukan seluruh lini bisnis perusahaan.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pelaksana BUMN, Dony Oskaria, mengatakan keberadaan integrator menjadi faktor penting agar berbagai unit usaha di lingkungan Telkom dapat bergerak secara sinergis dan menghadirkan solusi yang lebih komprehensif bagi pelanggan.
“Kita punya banyak bisnis, kalau tidak ada integratornya, mereka jalan sendiri-sendiri. Telkom jadi satu holding enterprise bisnis ini yang perlu, karena ini integratornya,” ujar Dony sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN usai bertemu Direktur Enterprise & Business Service PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Veranita Yosephine, Sabtu (18/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Danantara juga membahas arah transformasi Telkom Enterprise yang akan difokuskan pada penyempurnaan desain organisasi, penguatan tata kelola perusahaan, serta pembenahan model akuntansi.
Langkah itu diharapkan mampu meningkatkan daya saing Telkom Enterprise sekaligus memperkuat kapasitas perusahaan dalam menangkap peluang bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan layanan digital dari sektor korporasi.
Dony menilai momentum transformasi harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi organisasi yang lebih kuat sehingga siap menghadapi tantangan bisnis pada masa mendatang.
“Mulai membangun organisasi dengan benar. Ini kesempatan kita buat ngerapihin semuanya dan masuk ke fase yang baru,” imbuh Dony.
Sementara itu, Direktur Enterprise & Business Service PT Telkom Indonesia Tbk, Veranita Yosephine, mengungkapkan Telkom Enterprise saat ini membukukan pendapatan sekitar Rp19 triliun. Meski pertumbuhan bisnis masih berada di zona negatif, ia optimistis peluang peningkatan kinerja masih terbuka lebar apabila transformasi dijalankan secara konsisten.
“Pendapatan saat ini Rp19 triliun, growth memang masih minus. Tapi, kalau dibangun dengan benar, kita yakin bisa tembus pertumbuhan 25% sampai 30%. Global player saja bisa, masa negara dengan populasi dan GDP terbesar keempat di dunia tidak bisa?” katanya.
Ke depan, transformasi Telkom Enterprise juga akan diarahkan pada peningkatan efektivitas organisasi, optimalisasi talenta digital dalam negeri, serta penguatan tata kelola perusahaan. Melalui langkah tersebut, Telkom Enterprise diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai tulang punggung penyedia solusi digital nasional sekaligus menjadi penggerak integrasi bisnis di lingkungan Telkom. []
























