ASPEK.ID, JAKARTA – Mungkin tak sedikit yang mengira bahwa raja terkaya di dunia saat ini adalah Raja Arab King Salman bin Abdulaziz al-Saud atau Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam.
Faktanya sebagaimana dilansir dari laman LA Times, Kamis (15/10), Raja Thailand Maha Vajiralongkorn adalah raja terkaya di dunia saat ini.
Dia tercatat memiliki akses ke salah satu kekayaan kerajaan terbesar di dunia, yakni sebuah perusahaan induk rahasia yang sarat dengan saham di perusahaan blue-chip Thailand dan tanah utama di jantung kota Bangkok.
Total kekayaannya ditaksir mencapai US$ 30 miliar atau setara Rp 439 triliun.
Pada 2016 lalu, mengalihkan semua kepemilikan di perusahaan besar yang dikenal sebagai Biro Properti Mahkota (CPB) senilai US$ 70 miliar setara Rp 1.024,7 triliun (kurs Rp 14.639/US$) ke kepemilikan pribadinya.
Pemindahan kepemilikan itu sekarang menjadi fokus gerakan pro-demokrasi yang menuntut transparansi keuangan monarki dan batasan kekuasaan yang sangat luas.
Pada bulan Agustus, mahasiswa di Universitas Thammasat menuntut Raja mengembalikan aset ke kendali Biro Properti Mahkota. Mahasiswa meminta Raja menempatkan aset tersebut di bawah pengawasan pemerintah.
Demonstran yang melalukan unjuk rasa sejak awal musim panas, juga menyerukan kebangkitan bahkan menuntut penggantian sistem pemerintahan menjadi demokrasi.
Raja Maha Vajiralongkorn lahir di Istana Dusit, Bangkok, 28 Juli 1952 dan saat ini berumur 68 tahun. Dia menjabat raja Thailand sejak 13 Oktober 2016 lalu.
Sebagai raja kesepuluh dari Dinasti Chakri, ia diberi gelar Rama X. Ia adalah putra satu-satunya dari Bhumibol Adulyadej, Raja Thailand dan Ratu Sirikit.
Pada tahun 1972, saat usianya masih 20 tahun, Raja Bhumibol memberinya gelar Somdech Phra Boroma Orasadhiraj Chao Fah Maha Vajiralongkorn Sayam Makutrajakuman, membuatnya menjadi Putra mahkota Thailand.
Selain itu, ia juga bertugas di militer Thailand sebagai pilot helikopter. Ia ikut ambil bagian dalam operasi militer penumpasan Partai Komunis Thailand pada dekade 70-an, dan juga memimpin kontak senjata dalam sengketa perbatasan dengan Kamboja.
Setelah kematian ayahnya pada 13 Oktober 2016, ia diprediksi akan menjadi penerus takhta kerajaan Thailand meskipun harus menunggu masa berkabung selesai.
Ia menerima kekuasaan pada 1 Desember 2016, tetapi belum akan dimahkotai secara resmi hingga kremasi dari ayahnya selesai dilakukan.
























