ASPEK.ID, JAKARTA – EasyJet telah memperkirakan akan mengalami kerugian lebih lebih dari 800 juta pound sterling atau setara Rp 15,2 triliun (kurs Rp 19.000/pound) pada tahun ini.
Kerugian ini akan menjadi yang pertama dalam 25 tahun sejarah EasyJet.
Meskipun maskapai mengatakan dalam pembaruan perdagangannya telah mengambil tindakan keras untuk memotong biaya, peringatan tersebut menggarisbawahi tantangan yang terus berlanjut untuk industri.
Sky News telah melaporkan bahwa EasyJet telah memberi isyarat kepada pemerintah bahwa mereka mungkin memerlukan lebih banyak dukungan keuangan.
Dialnsir dari BBC, Kepala eksekutif Johan Lundgren mengatakan bahwa penerbangan terus menghadapi ancaman paling parah dalam sejarahnya.
Ia menyebutkan, pemerintah Inggris sangat perlu untuk meningkatkan paket langkah-langkah yang dipesan lebih dahulu untuk memastikan maskapai penerbangan dapat mendukung pemulihan ekonomi.




















