ASPEK.ID, SURABAYA – Operasi SAR khusus pencarian korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, resmi dihentikan pada Selasa (4/8). Namun, berakhirnya operasi tersebut belum mengakhiri penantian sejumlah keluarga yang hingga kini masih mencari anggota keluarganya yang diduga menjadi korban.
Sejumlah keluarga mendatangi Posko Terpadu di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kemarin, untuk mencari kepastian. Mereka mengaku kerabatnya belum ditemukan, baik dalam daftar korban selamat maupun korban meninggal dunia.
Salah satunya Anton, yang masih menunggu kabar saudaranya, Abdul Manan, seorang koki yang bekerja sebagai kru KMP Mutiara Sentosa II milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP).
Anton mengatakan keluarganya telah berulang kali berkoordinasi dengan petugas di posko pencarian. Namun hingga kini belum ada informasi mengenai keberadaan Abdul Manan.
“Setelah dicari enggak ada, sudah dikonfirmasi. Tadi waktu ke masuk posko sudah tanya, jawabannya berusaha dicari sama petugas,” kata Anton, Kamis (6/8/2026).
Menurut Anton, Abdul Manan telah bekerja di kapal tersebut sekitar satu hingga dua tahun terakhir. Kontak terakhir dengan keluarga terjadi saat proses pemuatan kapal sebelum insiden terjadi.
“Ya waktu di pemuatan kapal. Ya kan enggak ada yang bisa dihubungi, semua HP mati semua,” ujarnya.
Pihak keluarga juga telah menghubungi perusahaan tempat Abdul Manan bekerja. Menurut Anton, perusahaan berjanji ikut membantu mencari keberadaan kru tersebut.
“Sudah, katanya kita masih sama-sama berusaha cari,” katanya.
Nasib serupa dialami Muhammad Jasuar Bustam, warga Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Bersama ibunya, Samsiah, ia datang ke posko untuk mencari ayahnya, Bustam Sanusi atau Daeng Nappak, yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
“Saya anaknya. Bapak sopir asal Makasar. Sekarang nggak ada kabarnya, nggak ada namanya,” kata Jasuar.
Jasuar mengungkapkan komunikasi terakhir dengan ayahnya terjadi pada Minggu (2/8). Saat itu Bustam sempat mengirimkan video sekitar pukul 09.00 WIB. Namun ketika kembali dihubungi sekitar pukul 11.47 WIB, telepon selulernya sudah tidak aktif.
“Bapak yang kirim video jam 09.00 pagi. Setelah itu saya hubungi kembali 11.47 sudah tidak aktif,” ujarnya.
Hasanudin, kerabat yang mendampingi keluarga, mengatakan mereka memperoleh cerita dari rekan Bustam yang berhasil selamat. Berdasarkan kesaksian tersebut, Bustam sempat beberapa kali berusaha diselamatkan, namun kembali terjatuh ke laut.
“Kalau tadi itu ceritanya berdasarkan temannya. Dia sudah ditolong teman, dinaikkan lagi, jatuh lagi, sampai tiga kali. Ceritanya pelampungnya lepas. Hilang. Itu cerita dari temannya yang selamat, kemarin temannya datang,” kata Hasanudin.
Meski operasi SAR telah dihentikan, keluarga Bustam memilih tetap bertahan di Surabaya sambil menunggu perkembangan terbaru.
“Ditolong, tapi kan juga anu (menyelamatkan) dirinya sendiri juga. Kan susah juga,” ujar Jasuar.
Keluarga juga mempertanyakan mengapa nama Bustam Sanusi tidak tercantum dalam daftar penumpang maupun korban, padahal terdapat bukti video yang menunjukkan korban berada di atas kapal sebelum insiden.
“Tiketnya [nama] orang lain. Mobilnya mobil pengganti,” kata Hasanudin.
Hasanudin berharap proses pencarian tetap dilanjutkan karena masih ada korban yang belum ditemukan.
“Harapannya besar pencarian terus dilaksanakan. Masih beberapa hari ini pak, dan ada korban yang belum ditemukan,” ujarnya.
Selain Bustam, Hasanudin menyebut rekannya sesama sopir, Andik Herman, juga hingga kini belum ditemukan.
“Andik Herman juga tidak ada. Itu masih satu kerjaan, sopir juga. Andik Herman dan Bustam Sanusi yang belum ketemu,” katanya.
Kisah serupa juga dialami Tarjo, pengurus gudang PT Lintas Krayon. Ia mengaku kehilangan sopir perusahaannya, Abdurrahman (51), yang diyakini ikut menumpang KMP Mutiara Sentosa II.
Sejak hari pertama kejadian, Tarjo terus mengikuti perkembangan data korban. Namun nama Abdurrahman tak pernah muncul dalam daftar resmi.
“Minggu, ya hari Minggu saya ikutin sampai dari siang sampai malam itu, sampai pagi lagi saya ikutin. Nah ternyata tadi pas press conference kok cuma 238,” katanya.
Tarjo memastikan Abdurrahman benar berada di atas kapal. Menurutnya, keluarga memegang tiket resmi, riwayat komunikasi, hingga video terakhir saat korban berada di dalam kapal.
“Lah terus saudara saya yang ada tiketnya, nah ada tiketnya, saya tunjukin. Yakin, karena ada history terakhir dia kirim laporan. Dan ada video tadi mobil yang masuk. Tanggal 1 Agustus, jam 9 pagi, posisinya di kapal,” katanya.
Ia pun mempertanyakan ketidaksesuaian antara bukti yang dimiliki keluarga dengan data manifes resmi.
“Cuma yang saya tidak terimanya, kok bisanya gitu loh, di sini dia ada tiket resmi, ada video, ada foto terakhir, kok bisa tidak masuk daftarnya di manifes? Itu, yang jadi pertanyaan,” ujarnya.
Tarjo mengaku hanya bisa berharap Abdurrahman segera ditemukan, apa pun kondisinya, agar keluarga memperoleh kepastian atas nasib orang yang mereka cari. []
















