ASPEK.ID, JAKARTA – PT Freeport Indonesia mencatatkan penurunan penjualan sebesar 21 persen pada Kuartal I 2020. Perusahaan tambang ini tercatat menjual tembaga sebanyak 127 juta pon dan emas 139 ribu ounces.
President and Chief Executive Officer Freeport McMoRan, Richard Adkerson dalam keterangannya menjelaskan bahwa, pencapaian ini merosot jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada Kuartal I 2019, perusahaan tercatat mampu menjual 235 ribu ounces dan tembaga sebesar 174 juta pon.
Meski penjualan mengalami penurunan, namun Adkerson menjelaskan produksi bijih dari tambang bawah tanah di Papua sepanjang kuartal I 2020 melebihi target yang dicanangkan.
“Bahkan produksi dalam skala besar dari blok tersebut menghasilkan kualitas bijih tinggi dengan biaya yang rendah,” katanya, Selasa (28/4).
“Sedikit melebihi perkiraan kami di awal tahun dan 44% lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada akhir kuartal pertama, kami telah mampu memproduksi bijih hingga 40 ribu metrik ton per hari dan akan terus meningkat,” tambahnya.
Mulai 2020, Freeport Indonesia telah mengalihkan seluruh kegiatan produksinya ke tambang bawah tanah. Setelah cadangan tembaga dan emas tambang terbuka terkuras habis.
Peningkatan penjualan emas dan tembaga Freeport sejalan dengan penyelesaian tambang bawah tanah Grasberg Block Cave dan Deep Mill Level Zone. Penjualan emas dan tembaga diproyeksikan baru mulai naik signifikan pada tahun depan, yakni tembaga 1,4 miliar pon dan emas 1,4 juta ounces.
“Selanjutnya, penjualan mulai mencapai puncak tertinggi pada 2023 yaitu tembaga 1,7 miliar pon dan emas 1,8 juta ounces,” imbuhnya.
























