ASPEK.ID, JAKARTA – PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) memperluas langkah global dengan menjalin kemitraan bersama perusahaan asal Kanada, New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), untuk mengembangkan sumber daya niobium dan logam tanah jarang (rare earth) di Republik Gabon.
Kolaborasi tersebut mendapat dukungan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini dirancang untuk membangun integrasi hulu–hilir mineral kritis sekaligus memperkuat rantai pasok dan kapasitas manufaktur berbasis nilai tambah di Indonesia.
CEO Danantara, Rosan Roeslani dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2) menegaskan bahwa langkah ini menjadi bagian dari agenda strategis hilirisasi nasional.
“Fase pertumbuhan industri Indonesia berikutnya membutuhkan akses yang kuat terhadap input strategis serta kemampuan mengonversinya menjadi produk hilir berdaya saing global. Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis berorientasi masa depan,” ujar Rosan.
MoU tersebut menjadi dasar evaluasi keterhubungan rantai nilai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat pemrosesan, manufaktur, dan integrasi industri berbasis rare earth.
Kemitraan ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pasokan mineral kritis seperti niobium (Nb), neodymium (Nd), dan praseodymium (Pr), termasuk heavy rare earth elements seperti dysprosium dan terbium. Mineral tersebut merupakan bahan baku utama magnet permanen berkinerja tinggi yang digunakan dalam kendaraan listrik, sistem elektrifikasi, energi terbarukan, hingga industri kedirgantaraan dan pertahanan.
Presiden Direktur Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menyatakan MoU ini membuka jalur sistematis untuk menghubungkan potensi sumber daya global dengan agenda industrialisasi dalam negeri.
Ia menyebut kerja sama tersebut selaras dengan prioritas nasional jangka panjang dan tata kelola yang kuat, serta menjadi pijakan strategis untuk mempercepat transformasi sektor mineral kritis.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak akan membentuk Joint Working Group guna menjalankan program kolaborasi terstruktur, mencakup pertukaran data teknis, lokakarya, hingga asesmen komersial terpadu. Pengembangan proyek mencakup tahapan pemisahan dan pemurnian, produksi logam serta paduan, hingga manufaktur magnet permanen.
Di sisi pembiayaan, dibuka pula jalur negosiasi cepat terkait potensi partisipasi investasi strategis, baik dalam bentuk ekuitas maupun pembiayaan utang oleh Perminas dan Danantara pada proyek tambang Maboumine. Seluruh proses akan didukung mekanisme uji tuntas yang dipercepat.
President New Energy Metals Holdings Ltd, Abduljabbar Alsayegh, menyambut baik kemitraan tersebut.
“Kami antusias bermitra dengan Perminas untuk membangun kolaborasi yang memperkuat sekaligus mendiversifikasi rantai pasok rare earth global yang krusial,” ujarnya.
Langkah ekspansi ini menandai strategi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemain di sektor hilir domestik, tetapi juga aktif mengamankan pasokan bahan baku mineral kritis di tingkat global sebagai fondasi industri masa depan. []
























