Kanker paru merupakan salah satu penyakit kanker yang paling banyak ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, kanker paru menjadi kanker nomor satu yang paling sering dialami laki-laki, dan nomor lima pada perempuan. Selain itu, di Indonesia, kasus kanker paru ditemukan pada usia yang lebih muda, 10 tahun di bawah rata-rata usia kasus kanker paru di negara lain.
Dr. Sita Laksmi Andarini dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menjelaskan, lebih muda usia kasus kanker paru di Indonesia adalah karena awal usia merokok lebih muda.
“Di Indonesia angka perokok lebih tinggi pada laki-laki dan dari usia yang masih muda. Lalu di rumah seluruh keluarga terkena rokok, ada anak cucu jadi perokok pasif, sehingga meningkatkan angka kanker paru pada yang lebih muda,” ujarnya dalam media briefing, Senin (4/12/2023).
Adapun, perokok pasif 4 kali lipat lebih berisiko terkena kanker paru dibanding dengan yang tidak merokok. Perokok aktif 13 kali lipat lebih berisiko dari yang bukan perokok.
Perokok aktif pada pekerja tambang atau kimia risikonya untuk terkena kanker paru 8 kali lipat dari yang kerja di tempat yang sama tapi tidak merokok. Hal yang bisa dilakukan untuk terhindar dari kanker paru antara lain dengan pencegahan primer, sesuai peraturan pemerintah, dengan membebaskan ruangan dari asap rokok sama sekali, menghindari pajanan rokok, dan tidak merokok sama sekali.
Sita mengatakan sejumlah gejala kanker paru sering diabaikan, dan membuat kebanyakan pasien datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi kanker sudah berat atau pada stadium lanjut.
“Padahal, jika terdeteksi dini, masih mungkin diobati dan disembuhkan,” ungkapnya.
Beberapa gejala yang sering dialami oleh penderita kanker paru adalah batuk, sesak napas, batuk darah, nyeri dada, dan edema. Gejala-gejala ini juga mirip dengan tuberkulosis (TBC) sehingga orang-orang sering menganggap enteng dan tidak melakukan pengobatan dengan segera.
“Jika gejalanya dirasa mirip TBC, biasanya akan dilakukan skrining TBC terlebih dahulu dengan tes dahak. Jika diberikan pengobatan dalam dua pekan tidak ada perbaikan baru akan dilakukan langkah untuk diagnosa selanjutnya,” jelasnya.
Sita mengatakan bahwa pada kanker paru lebih banyak tidak bergejala. Hal ini karena paru tidak memiliki saraf perasa.
“Namun, saraf tersebut ada pada lapisan yang melapisi paru. Jadi kalau belum mengenai lapisan tersebut tidak terasa atau tidak bergejala, tapi kalau sudah sampai di lapisan itu sudah stadium lanjut. Karena itu, kita perlu lakukan upaya skrining kanker paru, sebelum ada gejala pada orang risiko tinggi,” paparnya dikutip dari bisnis Indonesia.






















