ASPEK.ID, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah selesai menyusun klasterisasi perusahaan pelat merah dari sebelumnya 27 klaster menjadi 12 klaster.
Dari 12 klaster tersebut, klaster pariwisata dan pendukung hangat dibicarakan dalam beberapa hari terakhir.
Klaster BUMN sektor pariwisata sebagaimana dilihat di laman resmi Kementerian BUMN, ada 9 perusahaan pelat merah yang tergabung di dalamnya.
Berikut ini profil singkat kesembilan BUMN klaster pariwisata dan pendukung:
1. Garuda Indonesia
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk adalah maskapai penerbangan nasional Indonesia. Perusahaan yang kini dipimpin oleh Irfan Setiaputra ini tercatat memiliki penghasilan bersih sebesar Rp 105,26 miliar (2019).
2. Angkasa Pura I
PT Angkasa Pura I (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara yang memberikan pelayanan lalu lintas udara dan bisnis bandar udara di Indonesia yang menitikberatkan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian tengah dan timur.
PT Angkasa Pura I saat ini mengelola 15 bandara di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah timur. Ke 15 bandara tersebut adalah Bandara I Gusti Ngurah Rai (Bali), Bandara Juanda (Surabaya), Bandara Sultan Hasanuddin (Makassar), Bandara SAMS Sepinggan (Balikpapan), Bandara Jenderal Ahmad Yani (Semarang) dan Bandara Sam Ratulangi (Manado).
Kemudian Bandara El Tari (Kupang), Bandara Pattimura (Ambon), Bandara Adi Soemarmo (Solo), Bandara Internasional Lombok (Praya), Bandara Frans Kaisiepo (Biak, Papua), Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sentani (Papua), Bandara Adi Sutjipto (Yogyakarta) dan Bandara Syamsudin Noor (Banjarmasin).
3. Angkasa Pura II
PT Angkasa Pura II adalah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pengelolaan dan pengusahaan bandar udara di Indonesia, bersama dengan PT Angkasa Pura I yang menitikberatkan pelayanan pada Indonesia bagian barat.
PT Angkasa Pura II saat ini mengelola 19 bandara, yaitu Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Kualanamu (Deli Serdang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Silangit (Tapanuli Utara).
Lalu, Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Supadio (Pontianak), Banyuwangi, Radin Inten II (Lampung), Husein Sastranegara (Bandung), Depati Amir (Pangkalpinang), Sultan Thaha (Jambi), HAS Hanandjoeddin (Belitung), Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Kertajati (Majalengka), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh) dan Minangkabau (Padang).
4. PT TWC BP dan RB (Persero)
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko atau PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) adalah salah satu BUMN yang bergerak di bidang pariwisata yang berdiri pada 1980.
Nama BUMN ini lebih sering disingkat menjadi PT Taman. Sesuai dengan namanya, BUMN ini mengelola pariwisata di tiga kawasan destinasi wisata yaitu Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Candi Prambanan dan Kompleks Ratu Boko di Sleman, Yogyakarta.
BUMN ini merupakan salah satu BUMN yang komposisi kepemilikan sahamnya 100% milik Pemerintah Republik Indonesia. Selain ketiga cagar budaya tersebut, BUMN ini juga mengelola Hotel Manohara di Kawasan Strategis Nasional Borobudur dan Sendratari Ramayana di Kawasan Candi Prambanan.
5. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero)
PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC) adalah sebuah BUMN Indonesia yang bergerak di bidang pariwisata yang berdiri pada 1972.
ITDC berdiri dengan nama Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang mengelola area komersial Nusa Dua menjadi destinasi wisata dunia di Indonesia. Saat ini ITDC mendapatkan hak untuk mengelola Kawasan Pariwisata Nusa Dua, Bali dan Mandalika, Lombok.
6. PT Hotel Indonesia Natour (Persero)
Didirikan pada 5 Agustus 1962, PT Hotel Indonesia Natour (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pelayanan jasa perhotelan dan kini memiliki nama bisnis/komersial Inna Hotels & Resorts.
PT Hotel Indonesia Nature (Persero) merupakan hasil penggabungan dari PT Hotel Indonesia International dan PT Natour pada tahun 2001. Penggabungan kedua perusahaan tersebut makin memperkuat dan memperluas jaringan hotel, yang semula berada di lima provinsi menjadi tujuh provinsi.
BUMN ini memiliki 14 unit hotel dan resort di Bali, Jawa dan Sumatera yakni Inaya Putri Bali Nusa Dua, Grand Inna Kuta, Grand Inna Padang, Grand Inna Bali Beach, Grand Inna Malioboro, Grand Inna Tunjungan, Grand Inna Samudra Beach, Grand Inna Medan, Inna Bali Beach Garden, Inna Bali Beach Resort, Inna Tretes Hotel & Resort, Inna Parapat Hotel & Resort, Inna Sindhu Beach Hotel & Resort dan Inna Bali Heritage Hotel.
7. Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan (Perum LPPNPI)
Perusahaan yang lebih dikenal dengan nama AirNav Indonesia ini adalah BUMN yang bergerak di bidang usaha pelayanan navigasi udara yang didirikan pada 13 September 2012 melalui PP No 77 tahun 2012.
AirNav Indonesia terbagi menjadi dua ruang udara berdasarkan Flight Information Region (FIR) yaitu, FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang.
Pendirian didasari oleh dua fakta kondisi penerbangan Indonesia yaitu, PT Angkasa Pura I dan II yang merangkap tugas mengelola sektor darat bandar udara dan navigasi penerbangan serta rekomendasi dari ICAO untuk membentuk badan atau lembaga khusus bidang navigasi penerbangan berdasarkan audit ICAO USOAP pada tahun 2005 dan 2007 yang menyatakan bahwa penerbangan Indonesia tidak memnuhi syarat minimum keselematan penerbangan.
September 2009, Pemerintah Indonesia merespon audit ICAO dengan memulai rancangan PP pendirian AirNav Indonesia dan disahkan pada 13 September 2012 menjadi PP No 77 tahun 2012. AirNav Indonesia mulai melaksanakan tugasnya mengelola navigasi penerbangan di seluruh wilayah Indonesia dimulai pada 16 Januari 2013.
AirNav mengelola seluruh ruang udara Indonesia dan jasa yang diberikan diantaranya yakni, pelayanan lalu lintas penerbangan, informasi aeronautika, telekomunikasi penerbangan, informasi meteorologi penerbangan dan informasi SAR.
8. PT Sarinah (Persero)
Sarinah sendiri resmi didirikan pada 17 Agustus 1962 dengan nama PT Department Store Indonesia, dan resmi membuka pintunya serta melayani masyarakat pada 15 Agustus 1966.
Sebagai BUMN, Sarinah bertujuan untuk mewadahi kegiatan perdagangan ritel dan menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia. Sepanjang keberadaannya, komitmen Sarinah tetap melekat pada kecintaan terhadap barang-barang produk dalam negeri dan dukungan terhadap usaha kecil.
Sarinah mewujudkan komitmen terhadap misi mendukung dan mendorong pembangunan ekonomi Indonesia melalui berbagai upaya untuk mempromosikan produk kerajinan lokal seperti batik. Pada 10 April 1979, Sarinah secara resmi berganti nama menjadi PT Sarinah (Persero).
9. PT Survai Udara Penas (Persero)
Dilansir dari laman Wikipedia, PT Survai Udara Penas (Persero) adalah sebuah maskapai penerbangan tidak berjadwal yang berpusat di Indonesia.
Penas melayani penerbangan tidak berjadwal dan saat ini sedang mengoperasikan Antonov An12. Penas memusatkan pesawatnya di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Perusahaan ini melayani jasa survei cuaca, pemetaan,dan sewa pesawat termasuk ambulans udara.























