ASPEK.ID, JAKARTA – PT PAL Indonesia kebanjiran pesanan kapal pada tahun ini. Perusahaan galangan pelat merah tersebut memastikan akan menangani lebih dari 20 unit kapal, di luar proyek rutin yang telah lebih dulu berjalan.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyampaikan bahwa seluruh proyek itu akan segera diproses kontraknya dan dikerjakan melalui kolaborasi dengan sejumlah galangan kapal nasional yang memenuhi kualifikasi.
“Jadi akan ada proyek yang harus kita tangani kontraknya dan tahun ini itu lebih daripada 20 kapal dan 20 kapal itu kita akan distribusikan ke galangan-galangan kapal yang memang sudah memiliki komitmen dan memiliki mencukupi syarat untuk bisa membangun kapal-kapal dengan berbagai ukuran tersebut,” ujar dia, Sabtu (28/2).
Menurut Djenod, seluruh kapal tersebut merupakan pesanan dari sesama perusahaan pelat merah sebagai langkah awal penguatan industri maritim nasional.
“Langkah awal ini adalah seluruh kapal yang dipesan oleh BUMN,” ucapnya.
Tak hanya mengandalkan kapasitas internal, PT PAL juga menggandeng industri pendukung dalam negeri untuk memperkuat rantai pasok. Salah satu mitra strategisnya adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) sebagai pemasok baja nasional.
“Ini langkah awal yang segera kami akan ambil kemudian juga langsung melibatkan industri komponen untuk pengerjaan lebih daripada 20 kapal tersebut,” sebutnya.
Djenod mengungkapkan, pihaknya telah melakukan konsolidasi awal bersama sekitar 100 perusahaan industri pendukung guna memaksimalkan ekosistem maritim nasional. Upaya ini diarahkan untuk memastikan kebutuhan kapal dan sektor maritim dapat dipenuhi oleh galangan serta industri komponen dalam negeri secara mandiri.
Ia menegaskan, penguatan ekosistem tersebut bukanlah bentuk monopoli pasar, melainkan bagian dari penugasan pemerintah untuk meningkatkan kualitas industri maritim nasional secara menyeluruh.
“Bersama-sama dan sekaligus juga untuk bisa mengumpulkan nilai atau jumlah daripada skala keekonomian untuk membangun industri-industri pendukung yang selama ini kita belum memilikinya,” jelasnya.
Djenod optimistis, dalam kurun satu hingga tiga tahun mendatang, kontribusi industri pendukung dalam negeri dapat meningkat signifikan.
“Dan mudah-mudahan 1-2 tahun, 3 tahun ke depan kita sudah mampu memiliki pandangannya industri pendukung lebih daripada 50-60%,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama KRAS, Akbar Djohan, memastikan kesiapan perusahaan dalam memasok kebutuhan baja pelat sesuai standar industri perkapalan nasional.
“Kami sebagai produsen plat Baja untuk bisa merealisasikan dukungan-dukungan produk yang terbaik dan juga memenuhi spesifikasi sehingga output daripada industri maritim ini bisa kita wujudkan dan bisa kita deliver sebagai negara yang berdaulat dan juga menjadikan Indonesia menjadi negara poros maritim di dunia,” tutupnya.
Kolaborasi antar-BUMN ini diharapkan menjadi fondasi penguatan kemandirian industri maritim sekaligus mendorong Indonesia menuju cita-cita sebagai poros maritim dunia. []
























