ASPEK.ID, JAKARTA – Seorang pendaki remaja asal Banyuwangi dilaporkan hilang saat melakukan pendakian di Gunung Ijen, Rabu (18/2). Korban diketahui bernama Muhammad Dzikri Maulana (16), warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin.
Peristiwa itu bermula ketika Dzikri bersama empat rekannya memulai pendakian sekitar pukul 02.00 WIB. Dalam perjalanan, rombongan terpecah menjadi dua kelompok. Dzikri bersama satu rekannya mendaki dengan didampingi pemandu wisata, sementara tiga lainnya memilih jalur berbeda melalui jalur troli belerang.
Kelima remaja tersebut sempat kembali bertemu di titik pertemuan strategis, yakni pertigaan jalur menuju kawah dan sunrise point. Mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Namun, saat rombongan bersiap bergerak kembali, Dzikri sudah tidak berada di lokasi. Rekan-rekannya mengira ia berjalan lebih dulu atau berada di sekitar jalur. Tanpa menyadari situasi yang sebenarnya, empat pendaki lainnya melanjutkan perjalanan turun dan tiba di Pos Paltuding sekitar pukul 08.00 WIB.
Kehilangan Dzikri baru diketahui setelah masing-masing rekan tiba di rumah, sementara korban tak kunjung pulang. Pihak keluarga yang panik segera melakukan pencarian mandiri, namun hasilnya nihil.
Sekitar pukul 10.00 WIB, keluarga melaporkan kejadian tersebut kepada petugas di Paltuding. Laporan itu langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan tim pencarian.
Tim gabungan yang terdiri dari petugas BBKSDA Jawa Timur, relawan pemandu wisata, serta Tim SAR Banyuwangi dikerahkan menuju titik terakhir korban terlihat, yakni di sekitar area sunrise point.
“Upaya pencarian terus dilakukan, tim SAR gabungan sudah bergerak di lokasi pencarian,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi I Made Astawa, Rabu (18/2).
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih berlangsung. Pihak SAR menyatakan perkembangan lebih lanjut akan disampaikan sesuai hasil penyisiran di lapangan.
Gunung Ijen sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi favorit pendakian di Jawa Timur, terutama untuk menyaksikan fenomena api biru dan panorama matahari terbit. Namun, kondisi jalur yang gelap saat dini hari serta kontur medan yang berpasir dan berbatu tetap menyimpan potensi risiko bagi pendaki, terutama yang masih berusia remaja.
Tim SAR kini memfokuskan pencarian di sekitar jalur sunrise dan kawah, sembari berkoordinasi dengan pengelola kawasan untuk memastikan seluruh titik rawan telah disisir. []






















