ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah akan menjajaki pasokan dari sejumlah negara, termasuk India dan China menyiapkan sumber pasokan baru untuk mengantisipasi risiko terganggunya impor bahan bakar minyak (BBM), terutama RON 90 atau Pertalite dari Singapura. Hal ini berkaitan setelah RI pangkas ekspor gas ke Singapura sebesar 31 billion British thermal unit per day (BBtud) atau sekitar 8% dari total pengiriman.
Bahlil menyebut pemerintah tidak ingin bergantung pada satu sumber pasokan, mengingat sekitar 54% hingga 59% impor BBM Indonesia selama ini berasal dari Singapura.
“Indonesia juga tahu bahwa kita mengimpor BBM RON 90 dari Singapura dan mulai besok saya akan berangkat ke beberapa negara termasuk India, Cina, dan beberapa negara untuk saya mendapatkan kepastian pasokan,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Bahlil, pemerintah telah memperhitungkan berbagai kemungkinan, termasuk jika Singapura merespons kebijakan pemangkasan ekspor gas dengan mengurangi pasokan BBM ke Indonesia.
“Kita sebelum melangkah, tidak mungkin tidak mempertimbangkan atau memperhitungkan semuanya. Sudah. Kalau di sektor energi kita sudah saya pertimbangkan semuanya,” ujarnya.
Meski demikian, Bahlil memastikan stok BBM, termasuk Pertalite, saat ini masih aman. Pemerintah juga menjamin harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkannya untuk mencari sumber pasokan baru sekaligus mengamankan kontrak jangka panjang.
“Insyaallah saya akan berikan jaminan atas arahan dan perintah Presiden Prabowo, bahwa cadangan BBM kita dalam standar minimum nasional, harga tidak akan naik untuk BBM subsidi. Saya diperintahkan untuk mencari kontrak jangka panjang,” tutup Bahlil.















