ASPEK.ID, MANGGARAI – Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya merobohkan rumah-rumah warga, tetapi juga mengubah kehidupan banyak keluarga dalam sekejap. Salah satunya dialami Seriani Wati Mengo bersama suami dan tiga anaknya di Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarga mereka rusak berat hingga tak lagi bisa dihuni. Kini, bekas kandang babi yang diperbaiki seadanya menjadi satu-satunya tempat tinggal bagi keluarga tersebut.
Dengan mata berkaca-kaca, Seriani menceritakan kondisi yang mereka hadapi sejak gempa melanda.
“Sebelumnya ini kandang babi, sekarang kami jadikan tempat tinggal. Rumah kami rusak berat, tidak ada lagi tempat lain,” kata Seriani, Selasa (1/9/2026).
Usai gempa, keluarga Seriani sempat mengungsi ke posko pengungsian bersama warga lainnya. Namun, kondisi posko yang dinilai masih jauh dari layak membuat mereka memutuskan kembali ke pekarangan rumah.
Menurut Seriani, posko pengungsian dipenuhi debu dan belum mampu memberikan perlindungan yang cukup, terutama saat hujan turun. Karena itu, mereka memilih memperbaiki kandang babi agar bisa ditempati sementara.
“Kami sempat di posko, tapi di sana juga belum layak. Takut hujan, banyak debu. Akhirnya kami pilih perbaiki kandang babi dan tinggal di sini,” ujarnya.
Bencana itu juga menghentikan mata pencaharian keluarga mereka. Seriani yang bekerja sebagai penenun dan suaminya yang berprofesi sebagai petani belum bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara itu, kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan. Bantuan beras yang sempat diterima kini hampir habis dan hanya tersisa sekitar tiga kilogram.
“Beras bantuan tinggal tiga kilo. Kami tidak bisa bekerja, padahal butuh makan. Kami butuh beras, obat-obatan, air bersih, belum lagi biaya sekolah anak-anak,” tuturnya.
Di tengah kondisi serba sulit, Seriani mengaku paling khawatir dengan masa depan pendidikan ketiga anaknya. Anak sulungnya kini duduk di bangku kelas III SMA, anak kedua kelas II SMP, sedangkan anak bungsunya baru berusia enam tahun.
“Kami sudah berpikir, bagaimana cara menyekolahkan anak kalau rumah saja sudah tidak ada?” katanya.
Rumah yang kini tinggal puing-puing itu memiliki nilai yang sangat besar bagi keluarga mereka. Bangunan tersebut dibangun dari hasil kerja keras selama 10 tahun merantau di Kalimantan. Selama bertahun-tahun mereka menabung sedikit demi sedikit demi memiliki rumah di kampung halaman.
Namun, perjuangan selama satu dekade itu hilang dalam hitungan detik ketika gempa mengguncang Manggarai.
“Sepuluh tahun kami merantau ke Kalimantan hanya untuk bangun rumah ini. Tapi sekejap gempa datang, semuanya hancur. Yang paling sedih, sekarang kami tinggal di kandang babi dan kandang ayam,” ujar Seriani sambil menangis.
Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, Seriani berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi keluarganya dan memberikan bantuan untuk membangun kembali rumah yang rusak berat akibat gempa.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung keadaan kami. Semoga ada bantuan untuk merenovasi rumah kami yang rusak berat,” harapnya. []















