ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan resesi di Indonesia hanya menunggu pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS).
“Dengan potensi resesi intinya tinggal tunggu dari BPS mengenai kinerja ekonomi kuartal III,” kata Bambang seperti dilansir dari Detik.
Bambang mengatakan saat ini kegiatannya new normal, diharapkan masyarakat tidak kembali ke masa lalu. Tampaknya harapan back to the past atau kembali normal akan memakan waktu yang lama. Apalagi kalau dilihat masih banyak penambahan kasus harian di atas 4 ribu orang.
Apalagi menurutnya saat ini Jawa Barat adalah wilayah nomor dua dengan kasus tertinggi. Kemudian tingkat kematian akibat COVID-19 ini masih tinggi dan belum melandai.
Bambang menyebut pandemi ini sangat mengganggu perekonomian nasional karena aktivitas perdagangan terganggu hingga masyarakat yang kehilangan pendapatan dan pekerjaan.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Kementerian Keuangan alami revisi forecast pada September ini, yang sebelumnya perkirakan untuk tahun ini adalah -1,1 hingga 0,2%. Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah -1,7 sampai -0,6%.
Ini artinya negatif teritory kemungkinan terjadi pada kuartal III-2020 dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV-2020 yang kita upayakan bisa dekat 0 atau positif
Ia mengatakan untuk Tahun depan, pemerintah akan menggunakan sesuai RUU APBN 2021 yakni 4,5-5,5% dengan forecast titik di 5,0.% Bagi institusi lain, rata-rata berkisar antara 5-6%. OECD tahun depan prediksi 5,3%, ADB sama 5,3%, Bloomberg median view 5,4%, IMF 6,1% dan World Bank 4,8%.
Semua forecast ini subject to atau tergantung pada perkembangan COVID-19 dan bagaimana ini pengaruhi aktivitas ekonomi.
Menteri Keuangan juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan di kuartal III-2020 dan outlook 2020. Kuartal III-2020 konsumsi rumah tangga diperkirakan masih zona kontraksi -3 hingga -1,5%. Dengan total outlook 2020 konsumsi kita berarti pada kisaran -2,1 hingga -1%.















