ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah akan mengalihkan pengelolaan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mulai 15 September 2026. Saat ini, Kemenkeu masih mematangkan skema pengelolaan kewajiban tersebut.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan proses penyerahan pengelolaan utang akan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Masih kita diskusikan. Yang jelas tanggal 15 September akan diserahkan,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026).
Purbaya menjelaskan, penyelesaian utang proyek Whoosh akan melibatkan Badan Layanan Umum (BLU) atau Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan. Pemerintah tengah mengkaji model yang dinilai paling sesuai, termasuk kemungkinan menunjuk dua SMV untuk menangani pengelolaannya.
Menurutnya, terdapat sejumlah opsi yang sedang dibahas. Pemerintah mempertimbangkan penggunaan SMV dengan skala berbeda, baik yang berukuran kecil maupun besar, bergantung pada skema yang nantinya dipilih.
“Kita masih godok bentuknya yang paling pas. Bisa melibatkan beberapa SMV Kementerian Keuangan, mungkin dua. Bisa juga memakai SMV yang kecil atau yang besar, nanti kita lihat skema terbaiknya,” ujarnya.
Rencana Kementerian Keuangan mengambil alih pengelolaan utang KCIC sebenarnya telah muncul sebagai salah satu opsi penyelesaian proyek Whoosh sejak April 2026.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria saat itu mengungkapkan pemerintah tengah membahas sejumlah alternatif untuk menyelesaikan persoalan pendanaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
“Ada beberapa skema yang sedang kita pikirkan. Nanti kalau sudah final akan kami sampaikan,” ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Dony sempat menyebut seluruh opsi ditargetkan rampung dalam waktu satu hingga dua bulan sejak pembahasan dimulai, termasuk kemungkinan pengelolaan KCIC dialihkan ke Kementerian Keuangan.
Meski demikian, Dony belum menjelaskan bagaimana nasib konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) setelah skema baru diterapkan.
Konsorsium PSBI beranggotakan sejumlah BUMN, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PTPN.
Ia hanya menegaskan pemerintah ingin setiap BUMN kembali fokus pada bidang usaha utamanya. Sebagai contoh, WIKA diharapkan berkonsentrasi pada bisnis konstruksi, bukan lagi mengelola operasional kereta cepat.
Saat ini, konsorsium PSBI menguasai 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai operator Whoosh, sedangkan 40 persen sisanya dimiliki konsorsium perusahaan asal China. []













