ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Pangan dan Obat-obatan AS (FDA) mengizinkan penggunaan vaksin virus corona (COVID-19) yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson’s pada Sabtu (27/2).
Dengan persetujuan itu, vaksin tersebut bisa mulai digunakan untuk vaksinasi secepatnya pada Senin (1/3).
Menurut hasil studi yang dilakukan di tiga benua, vaksin Johnson & Johnson 85 persen efektif untuk melawan penyakit serius, rawat inap, dan kematian akibat COVID-19.
Vaksin itu sebagaimana dilansir laman VOA, memberikan perlindungan bahkan di negara-negara di mana varian Afrika Selatan tersebar.
Vaksin yang hanya membutuhkan satu kali suntikan itu dinantikan oleh para pejabat kesehatan yang ingin mempercepat vaksinasi melawan virus corona dan varian baru.
Dilansir BBC, vaksin ini akan menjadi alternatif yang lebih hemat biaya dibandingkan vaksin Pfizer dan Moderna, serta tak perlu disimpan dalam freezer, cukup lemari es.
Uji coba menunjukkan ia dapat mencegah penyakit serius namun secara umum 66% efektif ketika kasus bergejala sedang (moderat). Vaksin Johnson & Johnson dibuat oleh perusahaan Belgia, Janssen.
Perusahaan setuju untuk menyediakan 100 juta dosis untuk AS pada akhir Juni. Dosis pertama dapat tersedia bagi masyarakat AS paling cepat pekan depan.
Inggris, Uni Eropa, dan Kanada juga sudah pesan, dan 500 juta dosis juga telah dipesan melalui skema Covax untuk disalurkan ke negara-negara miskin.
Presiden Joe Biden menyebut kabar ini “berita bagus bagi semua rakyat Amerika, dan perkembangan yang menggembirakan,” namun memperingatkan bahwa “pertempuran belum berakhir”.
Meskipun kita merayakan berita hari ini, saya meminta semua warga Amerika – terus mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker,” ujarnya dalam sebuah pernyataan pers.





















