ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sedang gencar-gencarnya melakukan aksi perombakan terhadap susunan manajemen sejumlah perusahaan pelat merah.
Analis The Perfekto Indonesia Almufarid C.Gadeng mengatakan, perubahan kinerja yang diberikan oleh aksi perombakan itu hingga sampai saat ini sama sekali belum terlihat.
Dikatakan Almufarid, belasan BUMN yang pejabatnya telah diganti, baik itu di Dewan Direksi maupun Dewan Komisaris, sebenarnya masuk ke dalam kategori belum layak untuk diganti.
“Seharusnya Erick Thohir fokus atau merombak BUMN yang saat ini sedang dalam kondisi kritis karena mengalami kerugian. Tapi, kenyataannya BUMN yang bagus (untung) juga diganti,” kata Almufarid kepada Aspek.id, Jum’at (14/2).
Almufarid merincikan, dari 13 BUMN yang mengalami kerugian terbesar di 2018, hanya 2 BUMN saja yang dirombak oleh Erick Thohir yakni Garuda Indonesia (rugi Rp 2,45 triliun) dan Perum Bulog (rugi Rp 961,7 miliar).
Untuk Garuda Indonesia sebenarnya juga harus diberikan pengecualian, karena Direksi lama yang diberhentikan akibat tersandung kasus penyelundupan Harley Davidson, dalam posisi kinerja bagus serta bisa dikatakan berhasil memperbaiki indikator keuangan perusahaan.
Seharusnya, tambah Almufarid, Erick Thohir memberikan perhatian terlebih dulu untuk BUMN yang sedang merugi seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Indofarma, PT Iglas, PT Sang Hyang Seri, dan sebagainya.
“Hal ini tidak sesuai dengan apa yang disampaikan (Erick Thohir) sebelumnya, dimana dia akan mempertahankan petinggi perusahaan yang memiliki kinerja serta pencapaian yang baik. Justru, yang bermasalah atau merugi malah dibiarkan sampai sekarang,” tegas dia.
Selain itu, Almufarid juga menyoroti perihal kekosongan kursi Direksi dan Komisaris di sejumlah BUMN. Seperti kekosongan 3 kursi Direktur di PT Angkasa Pura II, Komisaris Utama Pelindo II dan Direktur Utama PTPN III.
“Ada yang kosong tapi tidak ada tindakan apapun, justru yang terjadi hanya perombakan dan perombakan. Jumlahnya sudah 18 BUMN kalau tidak salah, nanti dalam waktu dekat 3 bank negara juga akan dirombak,” imbuhnya.
Almufarid juga menambahkan, jangan sampai gencarnya perombakan yang dilakukan oleh Erick Thohir yang masa jabatannya baru 4 bulan, terlihat seperti upaya pergantian rezim dari yang lama ke yang baru.
“Jangan sampai hanya terlihat seperti pergantian rezim, tapi peningkatan kinerja sama sekali tidak ada,” pungkas Almufarid.






















