ASPEK.ID, JAKARTA – Perusahaan nasional yang bergerak di bidang pertambangan, PT Timah Tbk (TINS) membukukan kerugian lebih besar pada akhir kuartal ketiga tahun ini atau per September senilai Rp 255,15 miliar.
Jumlah tersebut naik 45% dari rugi bersih yang dicatatkan perusahaan pada periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp 175,78 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, kerugian ini menyebabkan nilai kerugian per saham terus bertambah menjadi Rp 34 dari sebelumnya Rp 25.
Direktur Keuangan Timah Wibisono mengatakan perusahaan saat ini terus melakukan eksplorasi untuk mencari cadangan timah baru yang diprediksi memiliki potensi cukup besar.
“Potensi cadangan timah di Bangka Belitung masih besar, terutama untuk tipe primer yang banyak ditemukan di berbagai lokasi baru yang terus dilakukan eksplorasinya. Cadangan baru ini akan menjadi harapan akan keberlangsungan bisnis pertimahan di masa depan,” kata dia dalam keterangannya, dikutip Rabu (4/11/2020).
Meningkatnya kerugian ini disebabkan karena pendapatan usaha turun 18,42% secara year on year (YoY) menjadi senilai Rp 11,87 triliun dari pendapatan usaha di akhir September tahun lalu senilai Rp 14,55 triliun.
Beban pokok pendapatan sepanjang sembilan bulan tahun ini mencapai Rp 11,11 triliun, turun dari posisi Rp 13,53 triliun di periode yang sama tahun lalu dikutip dari CNBC, Kamis (5/11/2020).
Pada 10 Februari 2020, Menteri BUMN Erick Thohir sudah melakukan perombakan jajaran direksi dan komisaris perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
























