ASPEK.ID, JAKARTA – PT Angkasa Pura II atau AP II (Persero) mulai masuk ke segmen transformasi bisnis jilid kedua pada 2020-2024.
Transformasi ini diarahkan ke perencanaan bandara sebagai ekosistem bisnis, penciptaan model bisnis baru, hingga pencarian peluang.
“AP II harus mampu menghidupkan airport business Ecosystem misalnya masuk ke retail makanan dan minuman, event di bandara, edutainment, sampai hospitality, healthy, dan learning,” tutur President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam keterangannya, Jumat, 20 November 2020.
Awaluddin menjelaskan, Angkasa Pura II juga akan menciptakan layanan ekosistem digital dengan meluncurkan e-payment. Sejalan dengan itu, perseroan menerapkan strategi khusus untuk memperluas jangkauan pasar dari bisnis inti di sisi aeronautika dan nonaeronautika.
Di saat bersamaan, Angkasa Pura II mengoptimalkan utilisasi aset. Misalnya memanfaatkan lahan kosong untuk menciptakan pendapatan baru. Perusahaan juga membuka peluan kerja sama dengan jaringan internasional untuk pengelolaan hotel di bandara.
Pada periode sebelumnya, yakni 2016-2020, Angkasa Pura II melakukan pengembangan di tiga aspek, yaitu bisnis dan portofolio usaha, infrastruktur dan sistem operasi, serta sumber daya manusia.
Perusahaan kala itu berupaya meningkatkan kontribusi pendapatan bisnis nonaeronautika agar lebih besar ketimbang pemasukan aeronautika.
“Pada 2016, kami membentuk anak usaha PT Angkasa Pura Kargo dan PT Angkasa Pura Propertindo. Keduanya menyusul anak usaha yang sudah terlebih dahulu ada, yaitu PT Angkasa Pura Solusi,” katanya.
Angkasa Pura II juga membentuk PT Angkasa Pura Aviasi dan meningkatkan kepemilihan saham di perusahaan ground handling PT Gapura Angkasa. Melalui optimalisasi anak usaha, pada 2019, pendapatan bisnis nonaeronautika perusahaan berkontribusi hingga 59 persen dari total pendapatan.
























