ASPEK.ID, JAKARTA – Dari orangtua turun ke anak. Ahmad menurunkan kekayaan dan ilmu bisnis kepada anak sulung Aburizal. Di tangan generasi kedua, Ical – sapaan akrab Aburizal – mengembangkan unit-unit usahanya. Tentu sang anak tidak mau kalah dengan orangtuanya yang telah mendirikan bisnis dengan getir pada masa kolonial Belanda, penjajahan Jepang, era revolusi kemerdekaan, zaman orba dan seterusnya.
Generasi Kedua
Ical menggarap bisnis yang tidak disentuh pada masa ayahnya seperti media, pertambangan, dan sebagainya sesuai dengan teknologi dan kebutuhan masa tersebut. sebut saja menjelajah bisnis ke pertambangan, melalui bendera PT Bumi Resources Tbk, perkebunan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. PT Bakrie & Brothers Tbk sebagai induk usaha, VIVA dan MDIA sebagai perusahaan media dan PT Bakrieland Development yang bergerak di bidang properti. Dan bisnis-bisnis itu sudah go public.
Telah pelak ARB – inisial akrab Aburizal Bakrie -masuk 40 orang terkaya di Indonesia selama 6 tahun pada 2012. Dikutip dari Forbes, Kamis (29/11/2012), Ical masuk jajaran orang terkaya versi Forbes pada 2006 yang kala itu Menko Kesra sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar US$ 1,2 miliar pada urutan keenam. Peti uang Ical terus terisi yang bersumber dari salah satu anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yakni PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Di 2007, saham BUMI terus menanjak naik dari tahun 2004 sekitar Rp 300 per lembar menjadi Rp 5.900 per saham.
Kinerja kelompok usahanya ini membuat Ical dinobatkan jadi orang terkaya nomor 1 versi majalah Forbes Asia. Ical ditaksir memiliki kekayaan US$ 5,4 miliar atau Rp 50,22 triliun (kurs Rp 9.300).
Setelah terjadi krisis ekonomi di 2008, hampir seluruh kinerja korporasi di seluruh dunia melambat. Termasuk perusahaan-perusahaan milik Ketua Umum Partai Golkar itu.
Kerajaan bisnis ARB goyah pada 2010 karena mencuat masalah seperti utang yang melangit, jatuh tempo utang, bisnis rugi dan sebagainya. posisi Ical sebagai orang terkaya di RI turun dari nomor 6 ke nomor 10.
Di tangan generasi kedua, ARB menjalani profesi dari pengusaha, birokrat, politikus Ketua Golkar. Tiga jabatan yang diembangkan itu sudah lengkap untuk memperkuat posisi kelompok usahanya. Kelindan sebagai legislatif, eksekutif, dan bisnis sudah pernah dikuasainya yang pada hilirnya akan memperkokoh usahanya. di negara mana pun, bisnis tidak pernah terputus dari urusan dunia politik atau pemerintahan. ARB sudah memiliki koneksi ke ketiga jalur tersebut. Riak-riak bisnis Bakrie di tangan ARB bisa dilewati karena profesionalisme yang handal di grup perusahaan itu.
Salah satu masalah yang menguras manajemen Grup Bakrie yakni mengebor minyak di Blok Brantas, Sidoarjo, Jawa Timur yang berbuah malapetaka. Pada Mei 2006, di areal sumur pengeboran milik Lapindo Brantas Inc. – milik ARB – muncul semburan lumpur panas yang berdampak lebih dari 10 ribu orang mengungsi dan 400 hektare lahan terendam, termasuk sawah, rumah, pabrik dan sekolah.
Identitas perusahaan ada pada logo yang gampang diingat dan simpel. ARB meluncurkan logo Grup Bakrie bertema tanah dan semesta. Logo itu mencakup unsur-unsur alam, yakni dua garis tebal lengkung berwarna merah bata (terakota) mencerminkan tanah khas Indonesia yang subur. Bentuk ini seakan-akan terbagi dua oleh bidang putih di tengahnya, menandakan tanah yang telah diolah/dibajak, yang berarti akan semakin subur. Bentuk lengkung mengambil citra permukaan bumi yang bulat.
Titik-titik biru di atasnya mencerminkan langit semesta, dengan mengambil bentuk susunan konstalasi bintang utara (meluku), melambangkan cita-cita yang tinggi namun tidak melupakan tempat asalnya (bentuk alat bajak yang identik dengan tanah subur) Logo tidak dibatasi dengan kotak atau lingkaran, menandakan kedinamisan yang tidak terbatas.
Komposisi grafis mengambil gaya seni disain modern, dimaksudkan untuk memosisikan citra Bakrie ke masa depan (futuristic) yang membedakannya dari perusahaan lain. Makna falsafah logo Bakrie yakni
– Menggapai cita setinggi mungkin adalah semangat universal. Namun cita yang tinggi patut berpijak di atas dasar yang kokoh dan memberinya inspirasi serta nafas kehidupan. Cita tinggi selayaknya tidak melupakan tempat berpijaknya.
– Betapapun hebat, besar dan tingginya cita, Bakrie tidak akan pernah melupakan di mana ia berpijak dan harus berpijak selamanya. Sebab pijakan itulah yang mewarisi tradisi, kultur dan semangat usaha. Pijakan itulah yang memberi bentuk Bakrie kini dan Bakrie masa depan.
Dari mana ide logo tersebut berasal? Perancang internasional diminta untuk merancang logo baru Bakrie. Ketika sang perancang itu mendarat di Halim Perdanakusuman Jakarta., tanpa sengaja dia melihat tetesan cat tumpah di bandara membentuk titik titik yang terpisah. Lalu perancang merancang ulang dan jadilah logo Bakrie dari tumpahan cat yang kemudian dimodifikasi jadi logo dengan jasa pembuatan jutaan dolar.
























