ASPEK ID, JAKARTA – Dokter Tan Shot Yen, pakar gizi dan pendiri Remanlay Institute mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang membuat semacam panic buying terhadap produk tertentu terjadi.
“Pertama, publik salah asumsi. Karena tulisan di iklan yang bisa membuat orang menghubung-hubungkan nalar dengan literasi seadanya,” katanya,Minggu (4/7/2021).
Tan menuturkan klaim yang berlebihan atau overclaim suatu produk tidak pernah dibenahi.
“Pemerintah yang mestinya punya kendali buat negur, semprit, bahkan kasih sanksi,’ ajaknya disadur dari Liputan6.
Dia mencontohkan, selama ini juga banyak susu pertumbuhan anak yang disebut-sebut bisa membuat anak menjadi pintar dan berbudi.
Tan mengatakan bahwa literasi gizi masyarakat masih minim, sehingga ada kepercayaan-kepercayaan yang dibentuk sebagai opini publik.
“Apa yang mestinya mitos, dijadikan seakan-akan kebenaran, sebaiknya yang fakta ilmiah sama sekali tidak digubris,” ujarnya.
Tan menambahkan, masyarakat Indonesia seringkali tidak mau ribet untuk berpikir dengan nalar.
“Jadi kalau sakit yang diburu solusi, bukan evaluasi. Nah, ini dimanfaatkan pedagang,” terangnya.
Dia menegaskan bahwa susu evaporasi, UHT, serta susu cair sejenis, semuanya sama dengan komposisi yang bisa dibaca di labelnya.
“Tidak ada studi ilmiah yang menghubungkan konsumsi susu dan pencegahan penularan Covid-19. Satu-satunya pencegahan adalah protokol kesehatan ketat,” tutupnya.






















