ASPEK.ID, JAKARTA – Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam skema local currency trade (LCT) antara Indonesia dan China. Namun, bank-bank pelat merah itu mengajukan syarat berupa dukungan penuh likuiditas mata uang yuan dari Bank Indonesia (BI).
Perwakilan Himbara yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan kebutuhan dukungan tersebut telah disampaikan langsung kepada Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono.
“Ada sebuah syarat yang saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, yaitu bahwa bank di dalam negeri nanti yang akan terlibat dalam LCT ini, membutuhkan 100% dukungan likuiditas CNY atau Yuan dari Bank Indonesia,” ujar Putrama, Rabu (3/6).
Menurut Putrama, dukungan likuiditas diperlukan agar perbankan nasional dapat berperan optimal dalam menjaga kelancaran transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal. Terlebih, nilai perdagangan antara Indonesia dan China tergolong sangat besar.
Ia menjelaskan pengembangan skema LCT saat ini dilakukan bersama BI dan nantinya akan melibatkan tiga otoritas moneter, yakni Bank Indonesia, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.
“Kita memahami bahwa beberapa transaksi kita cukup besar katakanlah dengan china cukup besar, sehingga saat ini kami mengembangkan bersama dengan BI local currency trade. Ini melibatkan, nanti akan melibatkan tiga otoritas, tiga sentral bank, yaitu Bank Indonesia, kemudian Sentral Bank China, dan juga Sentral Bank Hong Kong untuk kita bisa melakukan local currency trade,” jelasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang pada penutupan perdagangan Selasa (2/6) berada di level Rp 17.839 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebagai informasi, Indonesia dan China telah menyepakati penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral. Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengungkapkan bahwa nilai transaksi LCT antara kedua negara terus meningkat.
Pada tahun lalu, nilai transaksi LCT Indonesia-China tercatat melampaui US$ 25 miliar per tahun. Sementara pada tahun ini, nilai transaksi bulanannya telah mencapai sekitar US$ 3,7 miliar.
BI juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah bank dan otoritas moneter di China agar transaksi yuan dapat dilakukan secara langsung di Indonesia. Dengan skema tersebut, masyarakat maupun pelaku usaha dapat melakukan transaksi yuan di dalam negeri, baik untuk transaksi spot, swap, maupun forward. []
























