ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang pengalaman pemerintahannya saat menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Menurutnya, Indonesia mampu melewati gejolak ekonomi dunia karena berhasil menjaga kepercayaan pasar serta menerapkan kebijakan fiskal yang hati-hati.
SBY mengatakan Indonesia tidak sepenuhnya terhindar dari dampak krisis global yang saat itu mengguncang banyak negara. Namun, berbagai langkah yang diambil pemerintah membuat perekonomian nasional tetap bertahan.
“Ketika krisis keuangan global melanda pada tahun 2008, Indonesia tidak kebal terhadap dampaknya. Namun, kita mampu bertahan karena menjaga kepercayaan, menjaga kehati-hatian fiskal, menjaga permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik,” kata SBY, Rabu (3/6).
SBY menilai, pada masa penuh ketidakpastian, pelaku pasar tidak hanya mempertimbangkan data dan indikator ekonomi. Menurutnya, arah kebijakan pemerintah dan kualitas tata kelola negara juga menjadi faktor penting yang diperhatikan investor.
“Kita belajar bahwa kredibilitas sangat penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka-angka, tetapi juga kualitas tata kelola,” tegas SBY.
Dalam kesempatan itu, SBY juga menyinggung pengalaman pemerintah saat melakukan rekonstruksi Aceh pascatsunami 2004. Ia menyebut pembangunan kembali wilayah terdampak bencana tidak semata-mata soal infrastruktur fisik, melainkan juga upaya memulihkan kepercayaan masyarakat.
“Ketika kita membangun kembali Aceh setelah tsunami, kita belajar bahwa rekonstruksi bukan hanya tentang bangunan, jalan, dan rumah. Rekonstruksi juga tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian,” jelas SBY.
Selain itu, SBY menekankan pentingnya peran Indonesia dalam berbagai forum internasional untuk memperkuat kredibilitas negara. Ia mencontohkan keterlibatan Indonesia dalam upaya penanganan perubahan iklim global, termasuk saat menjadi tuan rumah konferensi iklim di Bali pada 2007.
“Ketika Indonesia berpartisipasi dalam diplomasi iklim global, termasuk Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007, kita belajar bahwa negara berkembang harus menjadi bagian dari solusi,” ujar SBY.
SBY menilai berbagai pengalaman tersebut masih relevan dijadikan pelajaran bagi Indonesia saat ini, meski pemerintahan telah berganti.
“Pelajaran-pelajaran tersebut tetap relevan hingga saat ini,” pungkasnya. []
























