Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai US$ 137,24 miliar, melonjak 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 115,63 miliar.
Berdasarkan data BPS, impor nonmigas meningkat 15,50% menjadi US$ 115,23 miliar. Sementara itu, impor migas tumbuh lebih tinggi, yakni 38,71% menjadi US$ 22 miliar. Kenaikan impor migas terutama dipicu peningkatan impor minyak mentah sebesar 39,96% menjadi US$ 5,85 miliar serta hasil minyak sebesar 38,27% menjadi US$ 16,16 miliar.
Pada Juni 2026, nilai impor mencapai US$ 25,91 miliar, naik 34,27% dibandingkan Juni 2025. Impor migas melonjak 105,15%, sedangkan impor nonmigas tumbuh 25,05%.
Sepanjang semester I 2026, sepuluh golongan barang utama menyumbang 58,58% dari total impor nonmigas atau senilai US$ 67,50 miliar.
Mesin dan peralatan mekanis menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan nilai impor bertambah US$ 2,98 miliar atau 17,43%. Selanjutnya, impor mesin dan perlengkapan elektrik naik US$ 2,85 miliar atau 19,63%.
Kenaikan juga terjadi pada impor plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 1,08 miliar, garam, belerang, batu dan semen US$ 974,1 juta, berbagai produk kimia US$ 775,5 juta, serta bahan bakar mineral US$ 767,8 juta.
Sementara itu, impor kendaraan dan bagiannya menjadi satu-satunya golongan utama yang mengalami penurunan, yakni US$ 320,6 juta atau 6%.
Pada Juni 2026, impor sepuluh golongan barang utama tersebut mencapai US$ 12,95 miliar atau 60,65% dari total impor nonmigas. Nilainya naik 28,69% dibandingkan Juni 2025.
Dari sisi negara asal, China masih menjadi sumber utama impor nonmigas Indonesia. Sepanjang Januari–Juni 2026, impor dari China mencapai US$ 48,82 miliar atau 42,37% dari total impor nonmigas.
Secara keseluruhan, impor nonmigas dari 13 negara utama mencapai US$ 91,40 miliar, naik 14,49% dibandingkan semester I 2025. Kenaikan terutama berasal dari impor China yang bertambah US$ 8,89 miliar, Australia US$ 1,51 miliar, dan Taiwan US$ 904,1 juta.
Sementara itu, impor dari kawasan ASEAN mencapai US$ 16,90 miliar atau 14,67% dari total impor nonmigas. Adapun impor dari Uni Eropa mencapai US$ 7,39 miliar atau 6,41%.
Pada Juni 2026, impor dari 13 negara utama mencapai US$ 17,25 miliar, naik 26,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar berasal dari China sebesar US$ 2,67 miliar, Taiwan US$ 446,1 juta, dan Korea Selatan US$ 260,1 juta.
















