• Latest
  • Trending
85% Pekerja Profesional Indonesia Cari Kerja Baru di 2024

Fenomena Downgrade Lifestyle Kelas Menengah, Sinyal Tekanan Ekonomi

AP II Sediakan 100 Ruang UMKM di 19 Bandara

UMKM Serap 97 Persen Tenaga Kerja

6 Jenderal Bintang Tiga di Bursa Kapolri

Kapolri Rotasi & Mutasi 264 Pati dan Pamen Polri, 2 Polwan Naik Pangkat

Prajogo Pangestu Habiskan Rp 3,6 Triliun, Akuisisi Diler Mobil di Singapura-Malaysia

10 Orang Terkaya di RI Edisi November 2026

UMKM Terdampak Bencana Sumatera Bakal Dapat Lapak di Marketplace

Menteri UMKM Luruskan Pernyataan Hashim Pajak Wartel, Tukang Cukur, dan Pijat

6 Jenderal Bintang Tiga di Bursa Kapolri

Brimob Tangkap 2 Jenderal, ini Kata Mabes Polri

Jokowi: Ada Operasi Politik di Balik Isu Ijazahnya dan Gibran

Jokowi Hadir di Pengadilan, Polisi Siapkan Lokasi Parkir Terpisah untuk Dua Kubu

YLKI Minta Pembalut Jangan Dipajaki; Negara Harus Kreatif Gali Sumber Pajak

YLKI Minta Pembalut Jangan Dipajaki; Negara Harus Kreatif Gali Sumber Pajak

Bank Emas Mau Berdiri, Ini Analisa Pengamat

RI Impor Ratusan Kg Emas dari Jepang, Hong Kong dan UEA

Bahlil: Impor Minyak dari AS Sudah Berjalan Bertahap

Pertamina Masih Bisa Impor Migas, Sebelum Turun Permen ESDM

Bentuk Aliansi Unit Bisnis Kelistrikan, Medco Gaet Kansai Electric

Medco Tebar Dividen Interim Rp544 Miliar

PTPN Siap Pasok 1 Juta Ton Sawit ke PLN

BPS: Indonesia Ekspor CPO ke Israel Senilai Rp261,06 Miliar

RI Harus Waspadai Jebakan Gasifikasi Batu Bara

Singapura Ekspor Batu Bara 60 Juta Ton Padahal Tidak Punya  Tambang

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Selasa, November 3, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Fenomena Downgrade Lifestyle Kelas Menengah, Sinyal Tekanan Ekonomi

by Aspek
November 2, 2026
in BERITA TERBARU, LIFESTYLE
85% Pekerja Profesional Indonesia Cari Kerja Baru di 2024

 

ASPEK.ID, BOGOR – Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup ramai dibicarakan di media sosial. Perilaku ini terlihat dari keputusan masyarakat untuk mengurangi pengeluaran, memilih produk yang lebih murah, hingga menunda berbagai kebutuhan yang tidak mendesak.

Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menjelaskan,

BacaJuga

UMKM Serap 97 Persen Tenaga Kerja

Kapolri Rotasi & Mutasi 264 Pati dan Pamen Polri, 2 Polwan Naik Pangkat

10 Orang Terkaya di RI Edisi November 2026

Menteri UMKM Luruskan Pernyataan Hashim Pajak Wartel, Tukang Cukur, dan Pijat

Brimob Tangkap 2 Jenderal, ini Kata Mabes Polri

Jokowi Hadir di Pengadilan, Polisi Siapkan Lokasi Parkir Terpisah untuk Dua Kubu

“Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” ujarnya.

Dia mengamati dua hal menarik dari fenomena saat ini.

Pertama, perilaku tersebut kini banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi.

Kedua, penyesuaian gaya hidup tersebut semakin terbuka dibicarakan di media sosial, bahkan menjadi konten.

“Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” ujarnya.

Prof Megawati menilai, saat ini sebagian besar fenomena downgrade lifestyle di kalangan kelas menengah cenderung dipicu keterpaksaan. Penyebabnya, pendapatan tidak banyak bertambah, harga kebutuhan sehari-hari cenderung naik, dan kewajiban cicilan membuat ruang keuangan keluarga semakin terbatas.

“Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” tuturnya.

Selain itu, kelas menengah umumnya juga tidak banyak tersentuh bantuan sosial, sehingga sebagian berisiko bergeser ke posisi lebih rentan.

Faktor psikologis ikut berperan. Informasi tentang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya memperoleh pekerjaan membuat masyarakat menahan pengeluaran untuk membangun cadangan keuangan.

Fenomena downgrade lifestyle berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian. Ketika kelompok ini terus mengerem belanja, sektor-sektor seperti restoran dan kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, hingga properti, berpotensi merasakan dampaknya. Tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, dampak tersebut juga dirasakan usaha kecil dan menengah yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah,” kata dia.

Prof Megawati melihat fenomena ini juga memiliki sisi positif. Dalam jangka pendek, penyesuaian gaya hidup dapat mendorong konsumen beralih ke produk dan usaha lokal yang lebih terjangkau, sekaligus membantu memperbaiki kondisi tabungan rumah tangga.

Namun, jika berlangsung lama dan lebih banyak didorong keterpaksaan, fenomena tersebut dapat menjadi persoalan karena berpotensi melemahkan fondasi konsumsi nasional.

Jika hanya tekanan sementara, perilaku bisa berubah saat kondisi membaik. Jika pendapatan terus tumbuh lebih lambat daripada biaya hidup, kebiasaan itu bisa bertahan. Sebagian konsumen bahkan merasa pola baru lebih nyaman dan masuk akal dibandingkan gaya hidup sebelumnya.

“Jadi, ini bukan soal kelas menengah tidak mau belanja, tetapi soal kemampuan dan rasa aman. Kalau kita ingin konsumsi mereka pulih, kuncinya ada pada pemulihan daya beli dan kepercayaan terhadap kondisi ke depan, bukan sekadar mengajak mereka belanja lagi,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa hal yang perlu diupayakan bukan sekadar menerima downgrade lifestyle sebagai kenyataan, melainkan memastikan bahwa perubahan gaya hidup tersebut lahir dari pilihan yang sadar, bukan karena tekanan ekonomi.

“Untuk itu, daya beli dan kesempatan kerja yang baik tetap menjadi kunci,” pungkasnya dikutip dari website IPB pada Senin (1/11/2026).

 

Komentar
Share12Tweet7SendShareShare2Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Prabowo: Danantara Wajib Bantu Lanjutkan Proyek LRT Jakarta

Pemgamat: Komunikasi Prabowo Semakin Baik

  ASPEK.ID, JAKARTA: Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, mengatakan gaya komunikasi Prabowo semakin baik. Perubahan itu...

Harga Kopi Arabica Gayo Stabil

Pakar IPB:Rajin Minum Kopi Turunkan Risiko Penyakit Liver

  ASPEK.ID, BOGOR - Apakah pagi ini Anda sudah meneguk kopi tanpa pakai gula? Banyak faedah minum kopi. Hal ini...

Pakar: Uban Bukan Tanda Tubuh Melawan Kanker

Pakar: Uban Bukan Tanda Tubuh Melawan Kanker

  ASPEK.ID, -  Uban atau rambut yang memutih umumnya mulai muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa, terutama pada usia 30...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In