ASPEK.ID, WASHINGTON – Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang lebih terbuka setelah Pentagon memastikan kapal induk USS Abraham Lincoln berada dalam kondisi aman pasca upaya serangan rudal dari pihak Iran.
Klarifikasi resmi ini disampaikan untuk membantah klaim yang menyebut serangan tersebut berhasil mengancam armada laut AS. Pejabat tinggi militer Amerika dalam taklimat singkat menegaskan tidak ada kerusakan maupun gangguan operasional terhadap kapal induk tersebut.
“Rudal-rudal itu tidak mengenai kapal dan tidak menyebabkan kerusakan,” kata pejabat tersebut dalam sebuah taklimat singkat, dikutip pada Senin (2/3).
Pentagon bahkan menyatakan sistem pertahanan berlapis yang terpasang di kapal induk bekerja optimal. Ancaman disebut tidak pernah berada dalam jarak berbahaya.
“Rudal-rudal itu bahkan tidak mendekati” kapal induk kebanggaan Negeri Paman Sam tersebut.
Tak lama setelah insiden tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command (Centcom) melancarkan operasi balasan yang disebut sebagai serangan presisi terhadap aset angkatan laut Iran.
Targetnya adalah korvet kelas Jamaran yang berada di kawasan pelabuhan strategis Chabahar, Iran selatan. Kapal tersebut dilaporkan berhasil ditenggelamkan dalam operasi tersebut.
Korvet kelas Jamaran merupakan salah satu kapal tempur modern milik Angkatan Laut Iran yang berfungsi dalam patroli maritim dan pengamanan jalur perairan strategis.
“Seperti yang telah dikatakan Presiden AS, anggota angkatan bersenjata Iran, IRGC, dan polisi harus meletakkan senjata mereka. Menyerah,” tulis Centcom dalam sebuah unggahan resmi di media sosial.
Serangan terhadap kapal di area pelabuhan Chabahar dinilai sebagai langkah berani yang memperlihatkan perubahan pendekatan Washington. Tidak sekadar defensif, AS menunjukkan kesiapan melakukan tindakan ofensif langsung terhadap aset militer Iran.
Pengamat militer menilai langkah tersebut menjadi pesan tegas bahwa supremasi maritim AS di kawasan tetap dijaga, khususnya di jalur vital perdagangan energi global.
Dengan tenggelamnya kapal perang tersebut, situasi keamanan regional diperkirakan akan semakin tegang. Dunia kini menunggu respons Teheran di tengah kekhawatiran eskalasi yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan dan distribusi energi internasional.
Konfrontasi ini menandai babak baru rivalitas lama dua negara yang selama ini lebih sering terjadi melalui proxy dan tekanan diplomatik, namun kini bergerak ke arah keterlibatan militer yang lebih langsung dan terbuka. []
























