ASPEK.ID, JAKARTA – Fujifilm Holdings Corp mengatakan studi tahap akhir dari obat Avigan menunjukkan bahwa obat tersebut mengurangi waktu pemulihan untuk pasien COVID-19.
Studi klinis Tahap 3 terhadap 156 pasien di Jepang menunjukkan bahwa mereka yang diobati dengan Avigan membaik setelah 11,9 hari, dibandingkan 14,7 hari untuk kelompok plasebo.
Dilansir dari Reuters, hasil penelitian, yang dilakukan oleh anak perusahaan Fujifilm Toyama Chemical, secara statistik signifikan, kata perusahaan itu dalam rilisnya.
Pengumuman tersebut mengirim saham Fujifilm naik lebih dari 4% di Tokyo ke level tertinggi dalam empat bulan.
Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah memuji potensi Avigan sebagai kontribusi Jepang dalam perlombaan global untuk perawatan virus korona, yang bertujuan untuk mendapatkan persetujuan domestik pada bulan Mei.
Pemerintah meminta Fujifilm untuk melipatgandakan stok nasional Avigan, menyetujui pada tahun 2014 sebagai pengobatan flu darurat, dan berjanji untuk menyumbangkannya ke negara-negara berdasarkan permintaan. Tetapi kekurangan pasien di Jepang menghambat pengujian klinis.
Pada Juli, para peneliti di Fujita Health University mengatakan studi Avigan mereka gagal mencapai hasil yang signifikan secara statistik.
Dalam pernyataannya, Fujifilm mengatakan akan melakukan analisis lebih lanjut terhadap data uji coba dan berusaha mengajukan persetujuan Avigan untuk digunakan dalam COVID-19 pada awal Oktober.
Minggu ini, surat kabar Nikkei mengutip sumber-sumber kementerian yang mengatakan persetujuan dapat diberikan dalam waktu satu bulan setelah menerima permintaan semacam itu.
Pada bulan Juli, Fujifilm menjual hak globalnya atas Avigan ke Laboratorium Dr Reddy India. Sudah tersedia secara umum di banyak negara dengan nama favipiravir, obat tersebut telah disetujui untuk mengobati COVID-19 di India dan Rusia.










