ASPEK.ID – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Indonesia resmi membuka babak baru kerja sama militer melalui kesepakatan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Kesepakatan ini diumumkan pada Selasa (14/4) usai pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dengan Menteri Urusan Perang AS Pete Hegseth di Pentagon, kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, Hegseth menilai hubungan pertahanan kedua negara terus menunjukkan perkembangan signifikan. Ia menyebut kunjungan delegasi Indonesia menjadi sinyal kuat meningkatnya kerja sama strategis di bidang keamanan.
“Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan yang terus berkembang – serta aktif dan bertumbuh – antara Departemen Urusan Perang dan Indonesia. Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,” ujar Hegseth.
Sementara itu, Sjafrie menegaskan komitmen Indonesia untuk menjaga keberlanjutan kerja sama pertahanan dengan AS. Ia menekankan pentingnya hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
“Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia dengan semangat yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, yang harus berkelanjutan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat. Kita bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing,” kata Sjafrie.
MDCP akan menjadi kerangka utama kerja sama pertahanan RI-AS ke depan. Fokusnya mencakup tiga pilar utama, yakni penguatan kapasitas militer, peningkatan pendidikan dan pelatihan profesional, serta kerja sama operasional.
Selain itu, kedua negara juga membuka peluang kolaborasi di bidang teknologi pertahanan, termasuk pengembangan sistem otonom bawah laut dan kemampuan asimetris, serta pemeliharaan alutsista.
Kerja sama latihan militer juga akan ditingkatkan, termasuk penguatan latihan gabungan seperti Super Garuda Shield. AS juga mengapresiasi peran Indonesia dalam membantu pemulangan jenazah prajurit mereka dari masa Perang Dunia II.
“Saya menghargai dukungan berkelanjutan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami yang bertempur bersama Indonesia selama Perang Dunia II. Jadi, ini adalah awal dari babak baru dan misi bersama bagi negara-negara besar kita,” tambah Hegseth.
Secara historis, hubungan pertahanan kedua negara telah berlangsung lebih dari 70 tahun. Saat ini, Indonesia tercatat memiliki kontrak aktif melalui skema Foreign Military Sales (FMS) senilai sekitar US$ 1,88 miliar untuk pengadaan berbagai alutsista, seperti jet tempur F-16, helikopter Apache, serta rudal Javelin dan Sidewinder.
Selain pengadaan, AS juga memberikan dukungan berupa bantuan keamanan dan peningkatan kapasitas institusi pertahanan Indonesia. Kerja sama tersebut diperkuat lewat latihan rutin seperti Garuda Shield dan Cope West.
Di sisi lain, Indonesia juga menunjukkan peran aktif dalam misi global. Salah satunya dengan rencana pengiriman 8.000 pasukan perdamaian ke Jalur Gaza sebagai bagian dari kontribusi terhadap stabilitas internasional.
Langkah itu disebut sejalan dengan inisiatif Blue Ocean Project (BoP), yang menjadi bagian dari upaya perdamaian global yang melibatkan kerja sama berbagai negara. []























