Mantan Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan menilai kehadiran Danantara dalam ajang World Economic Forum (WEF) 2026 berpotensi menjadi magnet utama perhatian pelaku ekonomi dan bisnis global.
Bagi Gita, posisi Danantara sebagai pengelola dan pengalokasi investasi berskala besar memberikan daya tarik strategis bagi Indonesia di panggung ekonomi dunia.
“Danantara akan menjadi magnet utama untuk menyampaikan poin-poin strategis tentang ekonomi dan bisnis Indonesia. Posisi Danantara sebagai pengelola investasi akan menarik perhatian para pelaku bisnis dan investor global,” ujar Gita Wirjawan dilansir dari Liputan6.com, Sabtu (17/1).
Menurut Gita, WEF merupakan forum penting untuk menyampaikan narasi masa depan ekonomi Indonesia, terutama melalui peran Danantara sebagai institusi pengelola investasi yang berorientasi pada kolaborasi domestik, regional maupun global.
Dalam forum tersebut, Indonesia tidak hanya berbicara mengenai peluang investasi domestik, tetapi juga posisi Danantara sebagai mitra strategis dalam alokasi modal lintas negara.
“Forum WEF ini bisa juga menjadi ruang untuk membangun jejaring ekonomi global. Danantara, dengan mandat dan skala pengelolaan investasinya, memiliki daya tawar kuat untuk berdialog langsung dengan pemilik modal dan pelaku usaha dunia,” ujarnya.
Keberadaan Danantara sebagai alokator modal, menurut Gita, bisa memberikan sinyal penting bahwa Indonesia siap berkolaborasi secara setara dengan berbagai institusi dan pelaku ekonomi internasional.
Narasi ini dinilainya sejalan dengan praktik yang telah lama dilakukan negara lain, seperti Singapura melalui GIC dan Temasek, yang sukses menjadikan institusi pengelola investasi sebagai pintu masuk kemitraan global, khususnya di sektor inovasi dan teknologi.
Danantara Bisa Jadi Jembatan Persepsi Global
Lebih lanjut, Gita menyebut Danantara bisa berperan strategis dalam menjembatani persepsi global terhadap Indonesia, terutama dengan menerjemahkan ketidakpastian menjadi risiko yang terukur.
Melalui pendekatan tersebut, para investor dapat menilai peluang Indonesia secara lebih objektif dan terstruktur. Ia meyakini, dengan narasi yang tepat, Danantara tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di WEF 2026, tetapi juga mendorong masuknya investasi yang berkelanjutan dan produktif.
“Narasi bahwa Indonesia mengelola modal besar untuk kolaborasi global, inovasi, dan kemakmuran bersama, serta narasi Indonesia ke depan akan lebih baik sangat diperhitungkan di forum tersebut,” ujarnya.
Sebagai informasi, Pemerintah akan memboyong Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) ke ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss pada 19–23 Januari 2026. Forum ini menjadi momentum penting bagi Danantara untuk mengakselerasi rencana ekspansi investasi di tingkat global, khususnya dengan memanfaatkan pertemuan strategis dengan berbagai mitra internasional.
WEF 2026 akan mempertemukan hingga 3.000 peserta dari 130 negara. Adapun para peserta meliputi kepala eksekutif dan pemimpin dari perusahaan-perusahaan mitra, bersama dengan kepala negara dan pemerintahan, pejabat publik dari negara-negara G7, G20, BRICS, dan lainnya, serta para pemimpin organisasi internasional. Presiden Prabowo Subianto juga dijadwalkan menghadiri perhelatan yang mengangkat tema “A Spirit of Dialogue” ini. []























