ASPEK.ID, JAKARTA – Harga batu bara hingga saat ini masih terus mencatatkan penguatan. Kemarin, harga batu bara untuk kontrak yang aktif ditransaksikan berhasil naik dan tembus level US$ 61/ton.
Pada Selasa (29/9) harga batu bara termal Newcastle berjangka melesat lagi 1,24% ke US$ 61,4/ton.
Sebelumnya harga batu bara di awal pekan meningkat 3% dalam sehari. Ini merupakan harga batu bara tertinggi sejak 8 April silam.
Sentimen pengerek naiknya harga batu bara sebagaimana hasil laporan Tim Riset CNBC Indonesia, berasal dari dua konsumen terbesarnya yaitu China dan India.
Di China, harga batu bara patokan domestiknya yaitu Qinhuangdao untuk kalori 5.500 Kcal/Kg naik 1,5% pekan lalu ke RMB 599/ton atau US$ 87,91/ton.
Harga tersebut sudah berada di atas green zone yang merupakan target harga informal yang dipatok oleh pemerintah Negeri Tirai Bambu.
Rentang harga tersebut merupakan level di mana perusahaan tambang dan utilitas masih bisa menjaga margin atau labanya.
Pergerakan harga batu bara ke depan akan sangat ditentukan oleh pergerakan harga batu bara domestik China.
Apabila pasokan domestik masih ketat sementara permintaan terus meningkat, harga batu bara domestiknya akan naik dan juga akan ikut mengerek harga batu bara impor.
























