ASPEK.ID, JAKARTA – Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Fetty Kwartati mengatakan bahwa transformasi yang dilakukan perseroan akan menjadikan mal tersebut unik dan tidak untuk menyaingi mal seperti Grand Indonesia atau Plaza Indonesia.
Dalam jumpa pers Pencanangan Perdana Tranformasi Sarinah di Jakarta, Selasa, Fetty menjelaskan bahwa konsep mal Sarinah akan mengangkat “community mall”.
Sosok yang baru saja diangkat sebagai Dirut Sarinah pada akhir Juli lalu itu juga mengharapkan Sarinah bisa menjadi ikon Jakarta atau destinasi yang wajib dikunjungi (must visit place).
“Konsep yang diangkat Sarinah adalah ‘community mall’, tidak ‘head to head’ dengan Grand Indonesia, atau Plaza Indonesia atau mal lainnya, tapi menjadi mal yang unik karena mengandalkan komunitas ‘neighbourhood’ dan ‘public engagement’,” kata Fetty sebagaimana dilansir dari laman Antara di Jakarta, Selasa (18/8).
Dalam transformasinya, Sarinah akan mengubah empat area yakni retail, trading, digital, dan property. Khusus pada sektor retail, Sarinah tidak lagi dikenal sebagai toserba atau department store, melainkan ‘specialty store’.
Perubahan tersebut lebih sesuai dengan tren pola belanja masyarakat saat ini. Ada pun produk yang akan dijual pada ‘specialty store’ mencakup fesyen, kerajinan, kesehatan dan kecantikan, aksesoris, hingga tas.
Sarinah juga akan mengunggulkan budaya kuliner dengan menyajikan masakan nusantara pada bisnis Food and Beverage. Kedai kopi yang tengah menjamur juga akan tersedia di mal Sarinah.
Untuk menjangkau pelaku usaha internasional dan merambah turis mancanegara, Sarinah juga menghadirkan toko bebas pajak (duty free) dengan menempatkan lokasi tidak hanya di pusat kota, tetapi juga Bandara Internasional Soekarno Hatta serta Bandara Ngurah Rai di Bali.
Tentunya, produk karya UMKM yang sudah terkurasi dari berbagai kategori akan dipajang di ‘Trading House’. Sarinah diharapkan bisa menjadi agregator dan pusat data produk UMKM Indonesia untuk dipasarkan secara daring dan luring.
“Konsep baru yang akan dihadirkan Sarinah, yakni zona budaya (culture zone) yang memberi edukasi baik budaya kuliner, seni hingga pengalaman (experience). Untuk memfasilitasi pekerja milenial, Sarinah juga menyediakan coworking space yang sebelumnya tidak ada di mal tersebut,” jelasnya.























