Washington – Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan, mayoritas masyarakat Amerika Serikat (AS) menilai perang dengan Iran tidak sepadan untuk dilanjutkan.
Penilaian publik ini menjadi penolakan keras terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah yang berlangsung lebih lama dari yang dia prediksikan sebelumnya.
Berdasarkan survei terbaru dari The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research, sekitar dua pertiga warga dewasa AS menyebut perang yang dimulai sejak 28 Februari tersebut tidak sepadan.
Penolakan ini disuarakan oleh mayoritas pemilih Partai Demokrat, pemilih independen, serta sekitar 37 persen pemilih Partai Republik.
Di tengah konflik yang berlarut-larut, kekhawatiran warga AS bergeser ke dampak ekonomi sehari-hari, sebagaimana dilansir Associated Press.
Sebanyak 72 persen warga AS menganggap upaya mencegah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sebagai hal yang sangat penting, naik dari 67 persen pada Maret lalu.
Sekitar empat dari 10 responden atau 40 persen responden mengaku biaya BBM untuk kendaraan menjadi sumber stres utama dalam hidup mereka saat ini, meningkat dibandingkan 30 persen pada Februari.
Selain itu, sekitar 40 persen warga merasa sangat khawatir terhadap kemampuan mereka membeli BBM dalam beberapa bulan mendatang.
Dampak ekonomi ini dirasakan langsung oleh Mikal Baker (47), seorang pemilih independen dari Sandy Springs, Georgia. Dia mengaku kecewa dengan imbas perang terhadap BBM.
“Saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak melihat manfaat menyeluruh bagi warga negara AS dari perang ini,” ujar Baker.
Dia juga menyuarakan keraguannya bahwa konflik ini akan selesai dalam waktu dekat.
“Saya tidak bisa mengatakan konflik ini akan pernah berakhir,” paparnya.
























