ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah bakal kembali menguat dalam waktu ke depan. Keyakinan itu muncul setelah aliran dana asing mulai masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Menurut Purbaya, pemerintah terus menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global yang memicu pelemahan rupiah. Salah satu langkah yang dilakukan yakni melakukan pembelian obligasi di pasar sekunder.
“Rupiah tidak akan bertahan di level yang (rendah) ini untuk terlalu lama. Kan tadi kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi kan? Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” ujar Purbaya, Rabu (20/5).
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat ditutup melemah 38 poin atau 0,22% ke level Rp17.706 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.668 per dolar AS.
Purbaya mengatakan pemerintah sudah mulai masuk ke pasar obligasi sejak pekan lalu guna menahan tekanan di pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor. Langkah itu disebut mulai terlihat hasilnya melalui penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah.
Ia mengungkapkan investor asing kini mulai kembali membeli obligasi Indonesia, baik di pasar sekunder maupun pasar primer. Di pasar sekunder, dana asing yang masuk tercatat sekitar Rp500 miliar. Sementara di pasar primer mencapai Rp1,68 triliun.
Menurutnya, arus masuk dana asing tersebut menjadi tanda awal pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar surat utang RI.
“Jadi, tindakan kita menjaga stabilitas pasar obligasi itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kita, mereka mulai masuk, dolar mulai masuk kan ya harusnya,” tambahnya.
Purbaya menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi. Ia juga mengaku rutin berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto terkait perkembangan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah memastikan belum akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026. Asumsi harga minyak dunia juga tetap dipatok di level US$ 100 per barel.
“Saya nggak harus mengubah apa-apa lagi. Kami sudah melakukan penghematan yang kami pikir cukup untuk keadaan sekarang, termasuk rupiahnya sudah bergeser waktu melakukan simulasi itu,” katanya. []























