ASPEK.ID, JAKARTA – Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perbankan, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, menargetkan laba bersih ebesar Rp 3 triliun pada 2020.
Sebelumnya di 2019, laba bersih berhasil dibukukan BTN sebesar Rp 209,26 miliar. Jumlah ini menurun drastis hingga 92,55 persen dibandingkan 2018 sebesar Rp 2,81 triliun.
Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu menjelaskan bahwa, koreksi laba tersebut lantaran aksi bersih-bersih kredit bermasalah yang dilakukan perseroan serta peningkatan pencadangan. Kondisi ini diharapkan kembali membaik.
Anjloknya laba bersih perusahaan sepanjang tahun lalu, menurut Nixon, terjadi karena tahun 2019 memang menjadi tahun yang cukup menantang bagi perseroan. Salah satunya karena pengetatan likuiditas sepanjang 2018.
“Tahun 2019 merupakan periode yang menantang bagi perseroan. Kewajiban untuk mempersiapkan implementasi aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 hingga pengetatan likuiditas perbankan menekan kinerja perseroan pada 2019,” kata Nixon sebagaimana dilansir laman Tempo di Jakarta, Minggu (16/2).
Nixon menjelaskan, perseroan telah melakukan penyesuaian kolektibilitas kredit. Penyesuaian itu turut mengerek naik rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), sehingga memerlukan peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Likuiditas perbankan yang ketat pun mengakibatkan persaingan bunga dan menyumbang kenaikan beban bunga dana perseroan.
Kedua faktor tersebut berdampak signifikan bagi profitabilitas perseroan pada tahun lalu. Oleh karena itu, perseroan akan berfokus memperbaiki kualitas kredit dan memacu penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Tahun ini kami fokus memperbaiki kualitas kredit dan memacu penghimpunan (DPK) untuk mengantisipasi berbagai tantangan ekonomi sekaligus menggarap berbagai peluang bisnis di 2020,” jelasnya.






















