ASPEK.ID, JAKARTA – Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi menilai kerugian
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) membukukan kerugian bersih sebesar US$ 264,77 juta dolar AS sepanjang 2020 tidak bisa dielakan. Bahkan, kerugian sepanjang 2020 menyebabkan harga saham PGN terkoreksi hingga 39,44 persen pada tahun lalu
Fahmy menilai, kerugian disebabkan penurunan pendapatan niaga gas bumi pada segmen industri dan komersial sebesar 2,28 miliar dolar AS atau turun 23 persen secara tahunan (yoy) dibanding pendapatan 2019.
Selain terjadi penurunan penyerapan gas dari segmen industri dan komersial, penurunan pendapatan itu juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah menetapkan harga gas industri sebesar 6 dolar per MMbtu yang berlaku sejak 1 April 2020. Dimana, tujuan kebijakan pemerintah itu untuk mendorong sektor industri agar dapat bersaing di pasar dalam dan luar negeri.
“Namun, kebijakan itu sesungguhnya lebih besar mudharat (biaya) daripada manfaat (benefit). Biaya itu harus ditanggung pemerintah, sektor hulu dan midterm,” katanya disadur dari idxchsnnel.
Biaya yang ditanggung pemerintah adalah melepas pendapatan pemerintah dari sektor hulu sebesar 2,2 dolar per MMBtu, yang akan menurunkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam jumlah yang besar.
Penurunan PNBP juga akan menurunkan pendapatan Pemerintah Daerah dari pendapatan bagi hasil, yang besarannya diperhitungkan berdasarkan PNBP Biaya yang akan ditanggung oleh oleh sektor Hulu adalah pemangkasan harga jual, yang menjadi potential lost hingga mengurangi margin yang sudah ditargetkan pada saat penyusunan POD saat awal investasi di Hulu Migas.
Sedangkan biaya yang ditanggung oleh sektor midterm adalah penurunan biaya transmisi dan biaya distribusi serta biaya pemeliharaan, yang berpotensi menjadikan PGN tidak hanya merugi dan merontokan harga saham, tetapi juga menghambat dalam pembangunan pipa yang masih dibutuhkan untuk menyalurkan gas bumi dari hulu ke hilir.
“Apalagi penyerapan gas sektor industri menurun drastis, akibat pandemi Covid-19, menyebabkan kerugian PT PGN semakin membengkak,” katanya.
























