Singapura – Angka PHK di Singapura melonjak pada kuartal II 2026 dan mencapai level tertinggi sejak pandemi Covid-19. Sebanyak 4.500 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang April hingga Juni 2026, naik lebih dari 17% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Angka PHK meningkat, pemerintah menilai pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan dengan bertambahnya lapangan kerja dan tingkat pengangguran yang tetap rendah.
Data pendahuluan Kementerian Ketenagakerjaan Singapura (Ministry of Manpower/MOM) menunjukkan lonjakan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal IV 2020, ketika 5.640 pekerja terdampak PHK.
Melansir laporan Bloomberg, Kementerian Ketenagakerjaan Singapura mencatat terdapat 4.500 kasus PHK selama April-Juni 2026, meningkat dari 3.830 kasus pada Januari-Maret 2026. Kenaikan tersebut setara sekitar 17,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Angka itu sekaligus menjadi jumlah pemutusan hubungan kerja triwulanan tertinggi sejak kuartal IV 2020. Meski demikian, MOM menegaskan jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode terberat pandemi Covid-19 maupun masa Krisis Keuangan Global, ketika PHK triwulanan sempat berada pada kisaran yang jauh lebih tinggi.
Selain jumlah pekerja yang terdampak, tingkat PHK juga meningkat menjadi 1,9 per 1.000 karyawan, dari sebelumnya 1,6 per 1.000 karyawan.
Dalam keterangannya, MOM menjelaskan penyebab utama kenaikan tersebut. “Lonjakan PHK terkonsentrasi di beberapa sektor yang berorientasi ke luar negeri, terutama didorong oleh restrukturisasi bisnis,” tulis Kementerian Ketenagakerjaan Singapura, dikutip dari Bloomberg, Senin (3/8/2026).
MOM menyebut kenaikan pemutusan hubungan kerja paling banyak terjadi pada sektor yang bergantung pada pasar global, seperti informasi dan komunikasi serta manufaktur.
Direktur Pelaksana sekaligus Kepala Kelompok Bisnis Strategis Persol Asia-Pasifik, Foo See Yang, menjelaskan sektor-sektor tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap permintaan eksternal, termasuk ekspor, perdagangan internasional, investasi asing, dan rantai pasokan global.
“Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap ketegangan geopolitik, pergeseran kebijakan perdagangan, dan fluktuasi ekonomi global. Ketidakpastian yang berkelanjutan telah mendorong banyak bisnis di sektor-sektor ini untuk menilai kembali model operasional mereka, yang mengakibatkan restrukturisasi dan rasionalisasi tenaga kerja,” katanya.
















