• Latest
  • Trending

Produktivitas Tak Berkaitan dengan Lama Jam Kerja

1 Januari 2020, Harga Rokok Resmi Naik 35 Persen

Muhammadiyah Desak Rokok dan Vape Diberi Label Non Halal

Jakarta Banjir, Sejumlah Rute Bus Transjakarta Tak Beroperasi

Tarif Transjakarta, Transjabodetabek, dan LRT Jakarta Akan Naik Mulai 1 Januari 2027

Dudung Sidak Dapur MBG di Jakbar, Temukan Belatung hingga Area Kotor

Kejagung: Satu Perwira TNI Aktif Tersangka Kasus Korupsi MBG

Wagub Babel Hellyana Divonis 4 Bulan Penjara Terkait Kasus Penipuan

Presiden Prabowo Copot Wakil Gubernur Babel Buntut Kasus Ijazah Palsu

Aliansi Serikat MEPS dan Manajemen Pelindo Bahas Program Transformasi dan Penataan Peran Pelindo Grup

Aliansi Serikat MEPS dan Manajemen Pelindo Bahas Program Transformasi dan Penataan Peran Pelindo Grup

3 Nama dari PDIP Masuk Kabinet Prabowo-Gibran? Begini Jawaban Dasco

Dasco Bertemu 3 Petinggi OJK, Ini yang Dibahas

Kasus Tambang Murung Raya, Samin Tan Resmi Jadi Tersangka

Kejagung Tetapkan Kolonel Budi Utomo Jadi Tersangka Korupsi MBG

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

IHSG Tertekan Sepanjang Perdagangan, Ditutup Turun 0,43%

KopDes Soft Launching pada Oktober 2026

Menteri Zulhas: Gaji Manajer Kopdes Rp6,3 Juta-Rp8,3 Juta/Bulan

Bareskrim Ungkap Lima Laboratorium Narkoba Rahasia di Indonesia 

Prabowo Minta Kampus Kembangkan Konsep Rehabilitasi Narkoba

Hitung Kerugian Negara Kasus Jiwasraya, BPK Butuh Waktu 2 Bulan

DPD RI Rekomendasikan 10 Nama Calon Anggota BPK ke DPR RI

Bupati Cilacap Kumpulkan Dana Rp515 Juta untuk THR Polisi hingga Jaksa

Bupati Cilacap Dituntut 7 Tahun Penjara

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Rabu, September 30, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Produktivitas Tak Berkaitan dengan Lama Jam Kerja

by Aspek
September 22, 2019
in LIFESTYLE

ASPEK.ID, JAKARTA – Data perusahaan perbankan UBS dan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebutkan, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat para pekerja rata-rata bekerja 38,6 jam per pekan.

AS dijadikan patokan pengukuran jam kerja per pekan karena dianggap salah satu yang paling produktif. Atas dasar inilah kedua lembaga ini merilis negara-negara dengan jumlah jam kerja paling panjang setiap pekannya.

Di daftar pertama negara dengan jumlah jam kerja terpanjang adalah Kolombia. Negara di Amerika Selatan itu, rata-rata jam kerjanya mencapi 47,7 jam per pekan. Kemudian, Turki (47 jam), Meksiko (45,1 jam) dan Kostarika (44,1 jam). (lihat info grafis). Lalu, apakah lamanya jam kerja berimbas pada produktivitas karyawan di negara-negara tersebut? Ternyata tidak.

BacaJuga

Prabowo Minta Kampus Kembangkan Konsep Rehabilitasi Narkoba

Prabowo ke Rumah Megawati Sampaikan Duka Cita

Kemenkes: 260.000 Orang di Indonesia Meninggal karena Jantung

Jokowi di Mata Luhut Ketika Tidak Jadi Presiden

Seskab Teddy: Simulasi Ambulan Udara Digelar di Lampung.

10 Orang Terkaya di RI pada 2026

UBS dan OECD menyatakan, jam kerja panjang tidak memiliki kaitan dengan produktivitas yang tinggi. Contohnya, Meksiko yang menjadi negara ketiga dengan rata-rata jam kerja 2.622 jam per tahun hanya meraup produk domestik bruto (PDB) USD18,8 per jam. Sementara Irlandia yang memiliki jam kerja 1.856 jam per tahun mampu meraup USD84 per jam.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja. Dikutip Business Insider studi UBS dan OECD bersama beberapa perguruan tinggi menyebutkan, jam kerja selama 45 jam per pekan dianggap sebagai porsi yang ideal. Namun, porsi ideal ini belum cukup mendukung produktivitas seseorang karena dipengaruhi efisiensi, dan unsur kebahagiaan karyawan.

Ini sejalan dengan studi Chartered Institute of Personnel and Development, yang menemukan bahwa satu dari empat karyawan di Inggris sedikitnya bekerja lembur selama 10 jam per pekan. Menurut studi itu, sebagian besar dari karyawan mengaku memegang terlalu banyak pekerjaan namun tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelasaikannya.

“Pemberi kerja masih beranggapan jam kerja panjang berhubungan dengan kinerja yang baik,” kata Profesor Gail Kinman, ahli psikologi kesehatan kerja dari Universitas Bedfordshire, dikutip The Guardian.

“Faktanya justru sebaliknya. Semakin lama orang bekerja, kinerja, konsentrasi, dan kreativitasnya justru menurun,” ujar Kinman.

Di negara-negara ASEAN, isu jam kerja karyawan juga menjadi perhatian tersendiri. Dalam sepekan terakhir, pelaku usaha yang bergerak di bisang industri perstektilan di Tanah Air mewacanakan penambahan jam kerja karyawan dari saat ini 40 jam pekan menjadi 45 hingga 48 jam per pekan. Di Vietnam, otoritas setempat akan mengurangi jam kerja karyawan dari 48 jam per pekan menjadi 44 per pekan.

Menanggapi isu jam kerja, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana menyatakan, lamanya jam kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja.

Menurut dia, rata-rata 40 jam kerja per pekan tidak hanya diterapkan di Indonesia tapi juga banyak dijalankan di luar negeri. Hanya saja, terkait urusan jam kerja lembur merupakan kebijakan perusahaan masing-masing.

“Saya kira kalau jam kerja tidak berpengaruh besar terhadap produktivitas. Peningkatan produktivitas kerja diukur berdasarkan peningkatan keterampilan kerja,” ujarmya, Minggu (22/9/2019).

Apindo akan mendorong peningkatan pelatihan keterampilan secara intensif bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan maupun perusahaan. Pasalnya sebanyak 65% pekerja di industri padat karya tingkat pendidikannya rata-rata hanya setingkat SD dan SMP.

“Untuk itu perlu skill terus ditingkatkan jika kaitannya dengan produktivitas kerja karena mayoritas atau 65% berada di padat karya dengan jenjang pendidikan masih rendah,” katanya. (Sindonews)

Komentar
Share76Tweet48SendShareShare13Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Capai 24,79 Juta

Buruh  & Pengusaha Ungkap Penyebab PHK 53.000 Pekerja

    ASPEK.ID, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai...

Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Capai 24,79 Juta

UMP 2027 Diusul Naik Hingga 9,5%

ASPEK.ID, JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Partai Buruh, dan Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh (KSPPB) mengusulkan kenaikan...

Peluang Said Iqbal Masuk Kabinet Menguat, Istana Masih Bahas Jabatan yang Cocok

Said Iqbal: Tidak ada Demo Buruh Selama Agustus – September

Jakarta - Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, memastikan semua buruh yang berada di...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In