ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menegaskan produktivitas SDM RI masih rendah dibandingkan China, India atau Filipina.
Hal itu tercermin dari rendahnya sumber pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia terhadap total factor productivity (TPF).
“Ini terlihat dalam komparasi terhadap negara-negara lain. Dihitung dari total factor productivity, maka kita lihat sumber daya manusia Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain masih di bawah,” katanya dalam webinar, Kamis (1/4/2021).
TPF memperlihatkan produktivitas dari tingkat efisiensi penggunaan kombinasi input kapital dan tenaga kerja, termasuk aspek peningkatan teknologi. Rendahnya TPF berarti tingginya inefisiensi dalam suatu proses produksi.
Menkeu menjelaskan pertumbuhan PDB Indonesia yang sebesar 5,3 persen pada 2017 berasal dari 4,6 persen kapital dan 0,6 persen tenaga kerja. Sementara, kontribusi TPF terhadap pertumbuhan PDB Indonesia hampir nol persen.
“Setiap kali kita mau grow (tumbuh), kita hanya didominasi oleh nambah modal yang banyak dan menambah jumlah tenaga kerja. Nyaris tidak ada TPF,” ungkapnya.
Berbeda dengan China yang TPF-nya berkontribusi sebesar 2,3 persen dari total pertumbuhan PDB sebesar 7,3 persen pada periode yang sama. Sementara, kontribusi kapital dan tenaga kerja terhadap PDB China masing-masing 4,8 persen dan 0,1 persen.
“Itu artinya kita lebih banyak tumbuh dengan menggunakan otot dan keringat, tapi tidak menciptakan nilai tambah berdasarkan inovasi,” paparnya.
Menkeu menuturkan, minimnya kontribusi TPF dalam pertumbuhan PDB RI karena rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia serta tenaga kerja yang mayoritasnya berada di sektor informal. Selain itu, rendahnya TPF juga disebab minimnya utilisasi dan adopsi teknologi.
“Persoalan demografi muda merupakan kekuatan Indonesia. Namun, kalau kita tidak membuat SDM kita mampu berinovasi dan bisa terus bekerja dengan teknologi sehingga produktivitasnya naik, maka kita selalu outcompete,” tutupnya.
























