ASPEK.ID, JAKARTA – Iran menyebut kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir mencapai tahap final. Namun, pembukaan kembali jalur strategis tersebut disebut masih bergantung pada sejumlah tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Reuters, Selasa (11/8/2026), Selat Hormuz secara efektif diblokir sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Sebelum konflik, jalur perairan tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Situasi itu turut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung lancar dan konstruktif.
Menurutnya, Iran dan Oman telah menyepakati peta rute pelayaran baru. Namun, masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu diselesaikan sebelum pernyataan bersama mengenai kesepakatan tersebut dapat diterbitkan.
Pembahasan kedua negara mencakup mekanisme pelayaran yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, hingga upaya pemberantasan kejahatan di kawasan perairan tersebut.
Baghaei menambahkan, layanan maritim yang akan diberikan dalam pengaturan tersebut pada umumnya dilakukan dengan mekanisme pembayaran.
Iran Ajukan Syarat kepada AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kesepakatan dengan Oman kini memasuki tahap akhir. Meski demikian, Iran belum memastikan kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Teheran menegaskan pembukaan jalur tersebut sebagian bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan terhadap Washington.
Salah satu tuntutan utama Iran adalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat serangkaian serangan besar terhadap Iran.
Selain kompensasi, Iran juga meminta AS mengakhiri sanksi serta menghentikan ancaman militer terhadap Teheran. Iran juga menginginkan adanya jaminan agar kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni tidak kembali dilanggar.
Iran dan AS hingga kini tidak melakukan pembicaraan secara langsung. Araqchi mengatakan Teheran tidak akan memulai dialog langsung selama Washington dinilai masih melanggar kesepakatan sementara tersebut.
Komunikasi antara kedua negara dilakukan melalui pihak-pihak perantara.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington tidak sedang melakukan negosiasi penuh dengan Iran.
“Kami hanya bernegosiasi secara setengah-setengah dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi mereka yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang,” kata Trump.
Pembukaan Selat Hormuz Bergantung AS
Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Mohammad Baqer Zolqadr, turut mengungkap adanya sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.
Dengan demikian, meski Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan teknis mengenai jalur pelayaran, pembukaan kembali Selat Hormuz masih menghadapi persoalan politik yang melibatkan AS.
Teheran menilai penyelesaian persoalan dengan Washington menjadi salah satu faktor penting sebelum aktivitas pelayaran di salah satu jalur energi paling strategis dunia itu dapat kembali normal.
Rinciannya:
(1) Mengakhiri ancaman AS lebih lanjut terhadap Iran
(2) Menghentikan agresi terhadap Iran serta sekutu Iran di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak
(3) Mencabut blokade angkatan laut AS di Teluk
(4) Mencabut sanksi terhadap Iran
(5) Mencabut pembekuan terhadap aset-aset Iran
















