ASPEK.ID, JAKARTA – Sistem autothrottle diduga menjadi penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari 2021 lalu di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Sumber yang dekat dengan penyelidikan kecelakaan pesawat tersebut mengatakan kepada Wall Street Journal (WSJ) bahwa data FDR (flight data recorder) menunjukkan sistem autothrottle tidak beroperasi dengan baik di salah satu mesin pesawat saat naik ketika berangkat.
Sebuah autothrottle (throttle otomatis) memungkinkan pilot untuk mengontrol pengaturan daya dari mesin pesawat dengan menentukan karakteristik penerbangan yang diinginkan, bukan mengontrol manual aliran bahan bakar.
Sistem ini dapat menghemat bahan bakar dan memperpanjang umur mesin dengan metering jumlah yang tepat dari bahan bakar yang dibutuhkan untuk mencapai target kecepatan udara tertentu, atau untuk fase yang berbeda dari penerbangan.
A/T dan AFDS (Auto Sistem Flight Director) bekerja sama untuk memenuhi rencana keseluruhan penerbangan dan sangat mengurangi beban kerja pilot ‘.
Menurut WSJ, alih-alih mematikan sistem, FDR mengindikasikan pilot mencoba untuk membuat throttle yang macet berfungsi. Itu bisa menciptakan perbedaan tenaga yang signifikan antarmesin, membuat jet lebih sulit dikendalikan.
Meski demikian, penyelidik Indonesia sedang menyelidiki apakah masalah dengan sistem autothrottle benar-benar berkontribusi pada kecelakaan Sriwijaya Air.
Penyelidik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Nurcayho Utomo, mengatakan masalah dengan sistem autothrottle Boeing 737-500 dilaporkan setelah penerbangan beberapa hari sebelumnya.
“Ada laporan kerusakan pada autothrottle beberapa hari sebelumnya kepada teknisi di log perawatan, tapi kami tidak tahu apa masalahnya,” katanya dilansir laman Reuters, Jumat (22/1).
“Jika kami menemukan CVR (cockpit voice recorder), kami dapat mendengar percakapan pilot dan kami akan tahu apa masalahnya,” tambah dia.
Diberitakan sebelumnya, SJ182 terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang (CGK) dengan tujuan Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat (PNK) pada Sabtu (9/1).
Sriwijaya Air SJ182 kehilangan lebih dari 10.000 kaki ketinggian dalam waktu kurang dari satu menit, sekitar 4 menit setelah keberangkatan dari Jakarta usai mengalami delay sekitar 30 menit.
Di laman flighradar24.com, tertera informasi pesawat tersebut terjadwal berangkat pada pukul 13.40 WIB dan dijadwalkan tiba pukul 15.15 WIB.
Berdasarkan data manifest yang diterima, pesawat tersebut mengangkut sebanyak 40 penumpang dewasa, 7 anak, 3 bayi dan 12 kru kabin.
Berdasarkan data yang dikumpulkan radar ADS-B dari Airnav Indonesia, tercatat pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB dan terbang menuju arah Barat Laut.
Pada pukul 14.40 WIB pesawat mencapai ketinggian 10.900 kaki, namun selanjutnya pesawat mulai turun dan data terakhir pesawat berada pada ketinggian 250 kaki hingga akhirnya hilang kontak.
























