ASPEK.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan ultimatum keras terkait Selat Hormuz.
Melalui unggahan di media sosial yang dikutip, Senin (6/4), Trump menegaskan Iran harus membuka jalur pelayaran strategis tersebut untuk semua lalu lintas laut. Jika tidak, ia mengancam akan menargetkan infrastruktur vital Iran.
Trump bahkan menyebut tenggat waktu spesifik, yakni Selasa pukul 20.00 waktu timur AS. Gedung Putih kemudian mengonfirmasi waktu tersebut sebagai batas akhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.
Dalam pernyataannya, Trump juga menggunakan retorika agresif dengan menyebut Iran akan “hidup dalam neraka” jika tidak memenuhi tuntutan tersebut. Ia bahkan menyebut Selasa sebagai “hari pembangkit listrik dan jembatan di Iran”.
Ini bukan pertama kalinya Trump melontarkan ancaman serupa. Sebelumnya, ia juga pernah menyatakan akan menghancurkan infrastruktur penting Iran dan mengembalikannya ke “zaman batu”.
Namun, ancaman terhadap infrastruktur sipil menuai kritik tajam. Dalam hukum humaniter internasional, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Senator AS Tim Kaine menjadi salah satu yang paling vokal mengkritik pernyataan Trump. Ia menilai retorika tersebut tidak hanya tidak pantas, tetapi juga berisiko.
Ia menyebut komentar tersebut memalukan dan kekanak-kanakan, serta berpotensi membahayakan tentara AS jika mereka tertangkap di masa depan. Menurutnya, pernyataan keras seperti itu bisa memicu perlakuan yang lebih buruk terhadap personel militer AS oleh pihak lawan.
Kaine juga menyoroti absennya strategi yang jelas dari pemerintahan saat ini dalam menghadapi eskalasi konflik.
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tidak mundur. Negara itu justru meningkatkan tekanan dengan melancarkan serangan ke target ekonomi dan infrastruktur di kawasan Teluk.
Media pemerintah Iran bahkan menayangkan video yang diklaim sebagai bagian dari pesawat militer AS yang ditembak jatuh, disertai gambar asap hitam pekat membumbung ke udara.
Iran menyebut telah menembak jatuh satu pesawat angkut dan dua helikopter AS yang terlibat dalam operasi penyelamatan.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh sumber intelijen kawasan. Seorang pejabat yang mengetahui operasi itu menyebut militer AS justru menghancurkan dua pesawat angkutnya sendiri akibat gangguan teknis, sebelum mengerahkan armada tambahan untuk menyelesaikan misi.
Situasi ini memperlihatkan konflik yang kian terbuka dan berisiko meluas, terutama dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi global. []













