ASPEK.ID, GAZA- Serikat pekerja pelabuhan di 22 negara bersiap menggelar aksi mogok dan demonstrasi pada Jumat (30/10/2026). Aksi yang didukung lebih dari 25 serikat pekerja itu mencakup 113 pelabuhan di berbagai belahan dunia.
Dilansir Palestine Chronicle, gerakan tersebut bertujuan menolak penggunaan pelabuhan sebagai jalur pengiriman senjata dan perlengkapan militer ke wilayah konflik, terutama yang berkaitan dengan perang Israel di Jalur Gaza.
Aksi ini menjadi upaya memperluas tekanan internasional terhadap industri persenjataan dan rantai pasok militer yang dinilai ikut menopang perang.
Aksi solidaritas itu mendapat dukungan dari gerakan buruh Palestina, termasuk 17 serikat pekerja dan konfederasi buruh Palestina serta gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS).
Dukungan terhadap aksi internasional tersebut juga datang langsung dari Jalur Gaza. Pada Kamis (29/10/2026), sejumlah warga Palestina menggelar aksi solidaritas di pelabuhan nelayan di bagian barat Kota Gaza.
Kepala Serikat Umum Perikanan dan Produksi Maritim Gaza, Zakaria Bakr, mengatakan, aksi itu bertujuan menyampaikan suara nelayan Palestina kepada para pekerja pelabuhan di seluruh dunia.
Bakr juga menyampaikan terima kasih atas solidaritas para pekerja pelabuhan dan pelaut yang menolak fasilitas sipil digunakan untuk mendukung operasi militer Israel.
Dia mengungkapkan, nelayan Palestina telah dilarang melaut selama lebih dari tiga tahun. Selama periode tersebut, mereka menghadapi pembunuhan, luka-luka, penangkapan, hingga penghancuran aset dan perlengkapan perikanan.
Juru bicara kegiatan Sumud, Nour Saad, mengatakan, aksi di pelabuhan Gaza merupakan bentuk penolakan terhadap penggunaan pelabuhan dan rantai pasok untuk mendukung operasi militer Israel terhadap rakyat Palestina..
Para peserta aksi mendesak agar sumber daya tersebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan digunakan membiayai peperangan.
















