ASPEK.ID, JAKARTA – Pakar keamanan siber, Pratama Persadha, menilai tidak etis warganet mengunggah foto penumpang dan file PDF manifest penumpang.
Manifest berisikan nama lengkap semua penumpang, yang kemudian menyulut keingintahuan warganet untuk mencari akun Facebook, Instagram, Twitter, maupun Youtube para korban.
“Sebagian besar dari netizen ini pastinya penasaran bagaimana postingan terakhir para korban, apakah ada tanda-tanda menunjukkan bahwa statusnya seperti salam perpisahan atau sejenisnya,” kata Pratama, Minggu (10/1).
Pratama menuturkan, warganet mungkin penasaran dan tidak punya tujuan buruk, meskipun tetap tidak etis terutama di tengah kesedihan keluarga korban.
Dia menggarisbawahi, ada juga yang memanfaatkan ini menjadi click bait, membuat berita dan unggahan yang menyesatkan. Serta mencari keuntungan dari musibah yang terjadi. Ini yang harus diwaspadai.
Dalam banyak kejadian jatuhnya pesawat di berbagai belahan dunia, sering kali beredar kabar hoaks terkait adanya korban yang sempat mengirimkan WhatsApp atau telepon saat posisi pesawat akan jatuh. Hal semacam ini sering membuat masyarakat penasaran dan tertipu dengan berita tersebut.
“Karena itu harus sangat selektif kita memilih berita. Ini juga harus menjadi pelajaran para pihak bagaimana manifest bisa dengan cepat bocor ke publik,” tambahnya dikutip dari Sindonews.
Pratama mengingatkan kepada influencer, agar bisa membantu mengingatkan dan mengedukasi warganet untuk menjaga perasaan keluarga korban.
Selain itu yang paling penting, biasanya dengan peristiwa seperti ini akan banyak konten hoaks berseliweran. Ada yang membidik trafik di YouTube, web, media sosial, maupun yang menyebarkan link palsu berisi malware.
![[Foto] Evakuasi Sriwijaya Air SJ182](https://aspek.id/wp-content/uploads/2021/01/WhatsApp-Image-2021-01-10-at-16.44.45-360x180.jpeg)












![[Foto] Evakuasi Sriwijaya Air SJ182](https://aspek.id/wp-content/uploads/2021/01/WhatsApp-Image-2021-01-10-at-16.44.45-750x375.jpeg)










