ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir sedang mencari jalan keluar terkait nasib perusahaan pelat merah yang kondisinya saat ini sedang ‘sekarat’.
Pendiri Mahaka Group itu mempunyai sejumlah opsi, mulai dari penyehatan kondisi keuangan hingga likuidasi. Perusahaan ini kemungkinan juga akan ditutup atau digabungkan (merger).
Namun, Kementerian BUMN hingga saat ini masih meninjau kembali agar nantinya diketahui ada berapa BUMN yang berstatus ‘sekarat’.
“Kita sedang mengelompokkan, BUMN mana yang secara bisnis dan keuangan yang terus menurun,” kata Erick Thohir dalam Rapat Kerja bersaam Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis (20/2).
Erick Thohir juga mengaku bahwa saat ini Kementerian BUMN sedang menunggu keputusan dari Presdien Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, terkait merger dan likuidasi BUMN-BUMN yang sekarat itu.
Lantas, BUMN mana saja yang nasibnya sedang di ujung tanduk ini?
Berdasarkan data yang dianalisis oleh The Perfekto Indonesia, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menduduki daftar teratas BUMN yang paling rugi di 2018. BUMN yang bergerak di sektor asuransi ini mengalami kerugian sebesar Rp 15,83 Triliun.
Selanjutnya di peringkat kedua, ada BUMN yang bergerak di sektor penerbangan yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan kerugian sebanyak Rp 2,45 Triliun.
Kemudian melengkapi daftar 3 besar, ada BUMN yang bergerak di sektor produksi baja yakni PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dengan kerugian sebesar Rp 1,1 Triliun.
Parahnya lagi, dari 13 BUMN yang merugi tersebut, 7 BUMN diantaranya mengalami kerugian meski telah mendapatkan suntikan modal berupa Penyertaan Modal Negara (PMN).
Berikut 13 BUMN yang menderita kerugian terbesar sepanjang 2018, berdasarkan data yang diolah oleh The Perfekto Indonesia.























