ASPEK.ID, JAKARTA. – Menteri BUMN Erick Thohir memastikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berupaya keras mengejar target masuk 10 besar bank syariah dunia pada 2025.
“Roadmap sudah disusun, dengan tim manajemen yang kuat, model bisnis yang tepat, target itu bisa dilakukan,” ujar Menteri BUMN Selasa (9/2/2021).
Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah mengakui, dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia memang telat masuk bisnis syariah.
Diawali dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 1990-an, sementara Malaysia di tahun 1983, tapi penggabungan tiga bank syariah dengan aset Rp 239 triliun bisa menjadi modal awal untuk menggarap pasar yang besar, baik di dalam maupun di luar negeri.
Berdasarkan laporan ekonomi Islam Global 2020/2021 yang dirilis Dinarstandar, Indonesia masuk peringkat 4 dalam bisnis syariah, di atasnya ada Malaysia (1), Arab Saudi (2) dan Uniemirat Arab (3). Indikator ini disusun berdasarkan kinerja tujuh sektor bisnis yakni makanan minuman halal, pasar syariah, pariwisata, mode, industri farmasi, kosmetik, media dan rekreasi.
“Sektor ini bisa digarap dari hulu sampai hilir BSI, jangan kita menjadi market saja tapi bisa menguasainya,” ujar Erick.
Menurut Erick, BSI juga menjadi pembuktian Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim mempunyai bank syariah yang kuat secara fundamental.
Kata Erick, dengan model bisnis yang tepat serta kepercayaan masyarakat akan menjadi modal bagi BSI ke depan untuk memperbesar pasar dan inklusi keuangan. “Bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan, ini bisa menjadi modal,” ujarnya.
BSI dalam merebut pasar juga harus menentukan model bisnis yang tepat agar bisa bersaing tak hanya antar bank syariah tapi juga bank konvensional.
Strategi yang bisa digarap, . Pertama, mengembangkan pasar industri halal di dalam dan di luar negeri. Kedua, mengembangkan industri keuangan Syariah. Ketiga, investasi yang bersahabat yang melibatkan pengusaha daerah. Keempat, pengembangan ekonomi Syariah di pedesaan secara berkelanjutan.
Saat ini, bank syariah terbesar dunia adalah Al Rajhi Bank (Arab Saudi) dengan aset Rp 1.370 triliun. Di posisi kedua Dubai Islamic Bank dengan aset Rp 847 triliun, Ketiga Kuawai Finance dengan aset Rp 819 triliun, keempat Maybank Islamic dengan aset Rp 762 triliun.
Urutan kelima adalah Qatar Islamic Bank (Qatar) dengan aset Rp593 triliun. Lalu, keenam, Abu Dhabi Islamic Bank (UEA) dengan aset Rp 480 triliun.
Adapun posisi tujuh, Alinma Bank (Arab Saudi) dengan aset Rp452 triliun. Delapan, Parsian Bank (Iran) dengan aset Rp438 triliun. Sembilan, Masraf Al Rayan (Qatar) dengan aset Rp367 triliun dan kesepuluh Bank Rakyat (Malaysia) dengan aset Rp353 triliun





















